SEMARANG, beritajateng.tv – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Negeri Semarang (Unnes) melalui program ‘Suara Kita’ memberikan pendampingan kepada remaja di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Al Hidayah, Kota Semarang, belum lama ini.
Tim Suara Kita terdiri dari Mirza Hurin Alifah, Aura Regita Violin, Sofia Paradipta Rizki Setyawan, Rizdhika Putra, dan Devi Yofiana Putri, dengan dosen pendamping, Yogi Swaraswati.
Dosen pendamping, Yogi Swaraswati, mengatakan, program itu berfokus pada penguatan regulasi emosi dan relasi sosial adaptif.
“Melalui rangkaian kegiatan yang menggabungkan refleksi, ekspresi diri, latihan regulasi emosi, dan interaksi sosial,” katanya dalam keterangan tertulis kepada Beritajateng.tv, Selasa, 29 Oktober 2026.
BACA JUGA: Viral Dugaan Kekerasan Seksual Verbal Mahasiswa UNNES di Medsos, Kampus Sebut Ada Tiga Korban
Program ini, kata dia, berjalan oleh karena melihat kondisi menghadapi berbagai perubahan dalam masa remaja. Kemampuan mengenali dan mengelola emosi menjadi hal penting.
“Namun, tidak semua remaja memiliki ruang yang cukup untuk memahami perasaan dan menyampaikannya dengan cara yang tepat,” ucapnya.
Pendekatan dengan Strategi Stop, Refleksi, Respons
Dalam pelaksanaannya, remaja diajak mengenali apa yang mereka rasa sebelum menentukan respons ketika menghadapi situasi emosional.
Pendekatan tersebut penerapannya melalui strategi SRR (Stop–Refleksi–Respons) yang mengajak remaja untuk berhenti sejenak, memahami kondisi diri, kemudian mempertimbangkan respons yang sesuai.
Tidak hanya melalui refleksi, remaja juga mendapatkan pengalaman langsung melalui latihan regulasi emosi.
Salah satunya adalah pernapasan lima jari dan SEFT yang tim perkenalkan sebagai teknik sederhana.
“Ini untuk membantu menenangkan diri ketika menghadapi tekanan emosional,” kata Yogi Swaraswati.
BACA JUGA: Musim Perdana, 17 Kampus Bersaing Sengit di Campus League Badminton Regional Semarang
Selain regulasi emosi, kata dia, Suara Kita, juga memberikan perhatian pada kemampuan remaja dalam membangun relasi sosial.
Melalui kegiatan Trusting Train, remaja mereka ajak melewati rintangan dengan mengikuti arahan teman. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk melihat bagaimana mereka berkomunikasi, bekerja sama, memperhatikan kondisi teman, serta saling membantu.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Simbol Suara Kita. Dalam sesi ini, remaja diajak membuat dan menyepakati simbol sederhana yang dapat digunakan untuk menyampaikan kondisi emosi maupun kebutuhan personal kepada teman.
“Aku bisa pakai simbol-simbol kayak jempol ke atas kalau lagi seneng, jempol kebawah kalau lagi marah dan ngga mau diganggu,” kata salah satu peserta.
BACA JUGA: Tolak Kampus Top Dunia di London Demi FK UI, Ini Kisah Inspiratif Anindya Rarasati
Simbol tersebut menjadi cara sederhana bagi remaja untuk menyampaikan perasaan kepada orang lain.
Selain membantu mengenali emosi, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk melihat bagaimana remaja membangun relasi sosial yang lebih adaptif dengan memahami kondisi dan batasan satu sama lain.
Selama rangkaian kegiatan, remaja menunjukkan keterlibatan dalam mengikuti aktivitas, mulai dari latihan regulasi emosi hingga kegiatan yang mendorong interaksi sosial.
Mereka juga mulai berani menyampaikan perasaan dan menggunakan simbol sesuai kesepakatan, ketika membutuhkan ruang atau ingin menyampaikan kondisi tertentu.
BACA JUGA: Kronologi Dugaan Penipuan Masuk Kampus UI, Duit Warga Semarang Rp380 Juta Ambyar
Melalui Suara Kita, ada proses untuk mengenali, memahami, mengekspresikan, dan merespons emosi dengan cara yang lebih adaptif.
Program ini sekaligus mendorong remaja untuk membangun relasi sosial dengan pondasi kepercayaan, empati, komunikasi, dan penghargaan terhadap batasan personal.
Lebih lanjut Yogi Swaraswati, mengatakan, kegiatan Suara Kita, menjadi bagian dari upaya mahasiswa Unnes dalam mendukung kebutuhan psikososial remaja.
Program tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 tentang Good Health and Well-being dan poin 4 tentang Quality Education, khususnya dalam mendukung kesehatan mental dan pembelajaran psikososial remaja. (*)
Editor: Diaz A Abidin





