SEMARANG, beritajateng.tv – Suasana khidmat terasa di Ereveld Kalibanteng, Kota Semarang, Sabtu, 15 Agustus 2026, saat peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II Asia digelar.
Deretan makam yang tertata rapi menjadi latar suasana peringatan. Para tamu undangan mengikuti rangkaian acara dengan penuh penghormatan untuk mengenang para korban perang yang di makamkan di tempat tersebut.
Peringatan tahun ini mengusung tema “Memories That Endure, Values That Unite” atau Kenangan yang Bertahan, Nilai yang Menyatukan.
Kegiatan tersebut terhadiri Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, perwakilan Kerajaan Belanda dan Kantor Atase Pertahanan Commander Patrick Stähli, perwakilan Yayasan Makam Kehormatan Belanda atau Oorlogsgraven-stichting (OGS) Indonesia Allan Akbar, keluarga korban perang Henry Sandee, serta sejumlah perwakilan pemerintah, TNI, masyarakat dan tamu undangan lainnya.
BACA JUGA: Topik Perang Dunia 3 Trending Usai Iran Serang Israel, Warganet: Jangan Dulu, Aku Belum Nikah
Rangkaian acara terawali dengan sambutan dari Allan Akbar selaku perwakilan OGS Indonesia. Ia menyampaikan bahwa peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenang para korban sekaligus belajar dari sejarah.
“Tema peringatan hari ini adalah Memories That Endure, Values That Unite. Kita merefleksikan masa lalu, menjaga ceritanya, dan membangun jembatan menuju masa depan yang damai dan aman bagi semua,” ujar Allan dalam sambutannya di Ereveld Kalibanteng pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Ia menyebut lebih dari 3.000 korban perang dimakamkan di Ereveld Kalibanteng. Menurutnya, setiap makam menyimpan kisah kehilangan yang tidak hanya satu generasi yang merasakan.
Kisah Keluarga Korban Perang
Suasana semakin menyentuh ketika Henry Sandee, keluarga korban perang, membagikan kisah keluarganya.
Henry menceritakan sang kakek, Thomas, yang meninggal di Kamp Bangkong Semarang pada April 1945. Ia mengaku tidak pernah bertemu dengan sang kakek karena Thomas meninggal sebelum ia lahir.
Henry juga sempat mengunjungi bekas Kamp Bangkong yang kini telah menjadi sekolah. Ia mengaku sulit membayangkan lokasi tersebut pernah menjadi tempat penahanan sekitar 1.400 orang pada masa perang.
“Sulit membayangkan bahwa kurang lebih 81 tahun yang lalu itu menjadi penjara dan di sana ditempatkan 1.400 orang,” katanya.
Pesan Perdamaian dari Perwakilan Belanda
Pesan perdamaian kemudian Commander Patrick Stähli sampaikan. Menurut Stähli, kisah korban perang menunjukkan besarnya penderitaan manusia di balik catatan sejarah.
“Perdamaian tidak bisa teranggap remeh. Perdamaian tidak datang dengan sendirinya. Kita harus berjuang demi perdamaian setiap hari,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk menjaga perdamaian melalui pendidikan, komunikasi dan diplomasi, sekaligus belajar menerima perbedaan.
“Mari kita terima perbedaan. Kita sepakat untuk tidak sependapat. Mari kita cari nilai-nilai yang mempersatukan. Mari kita berjuang demi perdamaian,” katanya.
Selain sambutan dan kesaksian keluarga korban perang, peringatan juga terisi dengan sejumlah penampilan.
Nadin Himaya membacakan puisi dalam suasana hening di area makam. Setelah itu, Sanggar Monod Laras menghadirkan pertunjukan gamelan yang menambah suasana reflektif dalam kegiatan tersebut.
BACA JUGA: Dugaan Jual Beli Jabatan Perangkat Desa Sejak Rezim Sebelumnya, Sudewo: Pasrahkan Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
Salah satu bagian penting dalam acara adalah silent moment selama dua menit. Seluruh peserta berdiri dan mengheningkan cipta untuk memberikan penghormatan kepada para korban Perang Dunia II.
Dalam keheningan tersebut, para peserta diajak kembali mengingat jutaan manusia yang kehilangan nyawa, keluarga, rumah, serta masa depan akibat perang.
Peringatan kemudian berakhir dengan menaruh bunga di makam korban Perang Dunia II Asia. (*)
Editor: Farah Nazila





