“Salah satunya yang pengin aku cari katanya cuma ada di Semawis, es cincau Semawis kalau enggak salah,” katanya.
Soroti Kuliner Halal dan Non Halal yang Berdekatan
Sebagai pengunjung muslim, Dilla juga memperhatikan informasi mengenai makanan halal dan nonhalal yang jadi bahan jualan dalam festival.
Dia mengatakan sejumlah stan memang menyediakan makanan halal. Akan tapi stan halal dan nonhalal berada dalam area yang berdekatan. Pengunjung perlu bertanya langsung kepada penjual.
“Memang harus hati-hati, karena antara tenant halal sama nonhalal itu campur. Jadi kalau mau ke tenant lain aku juga nanya ini halal atau enggak,” katanya.
Hal serupa menurut Dia juga perlu jadi perhatian betul ketika membeli mooncake. Oleh karana, dia megatakan, terdapat produk yang menggunakan minyak babi dan ada pula yang tidak.
Karena itu, Dia berharap penyelenggara dapat memberikan penanda yang lebih jelas untuk stan makanan halal dan nonhalal pada festival berikutnya.
“Kalau tahun sebelumnya itu ada pemisah, ada tenant yang nonhalal sama yang halal. Jadi kita kalau mau cari enggak perlu pusing. Lebih ke kasih tanda lah, sama banyakin tenant-nya,” katanya.
Di tengah suasana yang semakin gelap, aktivitas pengunjung di Gang Warung tetap berlangsung. Lampu-lampu stan membuat deretan penjual makanan dan pernak-pernik semakin terlihat di sepanjang kawasan Pecinan.
Pengunjung terus berdatangan, menyusuri stan demi stan untuk menemukan makanan yang mereka cari sembari menikmati suasana heritage kawasan Pecinan Semarang. (*)
Editor: Diaz A Abidin





