“Kami semakin optimistis target pengelolaan sampah nasional dapat tercapai apabila dibangun dari semangat masyarakat. Ketika prakarsa warga bertemu dengan dukungan pemerintah, maka akan lahir gerakan besar yang membawa banyak manfaat,” katanya.
Apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Semarang dalam memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Melalui Program Semarang Wegah Nyampah, pengembangan bank sampah, edukasi masyarakat, hingga penguatan ekonomi sirkular. Pemkot Semarang terus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengungkapkan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat telah menunjukkan hasil yang positif.
“Hingga tahun 2025, Kota Semarang memiliki 857 bank sampah aktif dengan 15.725 nasabah. Sampah yang berhasil di kelola mencapai 1.705,7 ton per tahun dengan nilai ekonomi sirkular sebesar Rp1,99 miliar. Pada tahun 2026, jumlah bank sampah kami targetkan meningkat menjadi 1.486 unit dengan proyeksi pengelolaan sampah mencapai 2.823,4 ton per tahun,” jelas Agustina.
Menurutnya, keberhasilan yang warga Bulusan capai membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan.
Tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi baru, memperkuat semangat gotong royong, serta membangun budaya hidup berkelanjutan di tengah masyarakat.
Pemkot Semarang berharap praktik baik yang berkembang di Kebun Bulusan Edu Park dapat di replikasi di berbagai wilayah lain. (*)
Editor: Elly Amaliyah





