SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah akan mengoptimalkan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) pasca kasus gangster remaja di Kota Semarang.
Hal itu terungkap dari Plt Kepala Cabang Dinas Wilayah 1 (Kota Semarang dan Kabupaten Semarang), Sunarto usai menghadiri Focus Group Discussion di Polrestabes Semarang, Jumat 20 September 2024 sore.
Adapun pengoptimalan TPPK itu, kata Sunarto, ialah dengan cara menghadirkan kegiatan positif bagi anak di lingkungan sekolah.
“Sehingga ide hebat anak-anak itu bisa terwujudkan dalam berbagai macam kegiatan positif di sekolah, itu untuk mengikis adanya ide yang negatif,” ucap dia.
Oleh karena aktivitas gangster itu berlangsung pada malam hari, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengajak orang tua untuk bisa mengawasi aktivitas anak mereka.
“Kami sangat mengajak pihak orang tua, dalam hal ini, agar orang tua turut mengendalikan anak-anaknya untuk dipastikan malam hari itu ada dalam kendali mereka,” terang Sunarto.
BACA JUGA: Semarang dalam Bayang-Bayang Gangster, Apa yang Memicu Fenomena Ini?
Seharusnya, waktu 01.00 atau 02.00 dini hari itu, ucap Sunarto, untuk beristirahat dan bersiap untuk sekolah keesokan harinya.
“Dan kami mengajak juga di tingkat sekolah untuk bisa membuka ruang-ruang ekspresi bagi mereka. Entah itu jalurnya olahraga, jalurnya seni atau lewat jalur sains sesuai dengan bakat yang mereka miliki,” paparnya.
Salah satunya ialah menyalurkan energi mereka lewat olahraga, seperti karate ataupun taekwondo.
“Kalau dia, yang memang, katakanlah terkait keberanian atau perkelahian bisa ikut karate, bisa taekwondo, bisa tinju, semacam itu. Dan pemerintah daerah saya kira juga menyediakan sarana-sarana publik tersebut, bisa dioptimalkan,” ucap dia.
Sunarto harap gangster paham konsekuensi, salah satunya tak dapat SKCK
Selain menyalurkan energi anak ke kegiatan positif, Sunarto juga menyoroti konsekuensi dari tindakan yang anak-anak lakukan. Apalagi, tutur dia, yang akan mengancam masa depan mereka sendiri.
“Harus ada pengajaran bahwa anak itu tumbuh untuk mempersiapkan masa depannya. Tidak mempertaruhkan masa depannya dengan aksi-aksi negatif yang saat ini,” tegas dia.
Adapun konsekuensinya seperti tak akan memeroleh SKCK jika pernah tercatat sebagai kriminal.
“Misalnya, tadi Kapolres menyampaikan dia [anak yang terlibat gangster] akan mendapat punishment, nanti tidak mendapatkan SKCK kalau dia melakukan kegiatan kriminal. Itu berarti masa depannya di pertaruhkan,” paparnya.
BACA JUGA: Semarang Darurat Gangster, Polisi Bakal Patroli Besar-besaran
Hal-hal seperti itu menurutnya harus tersampaikan dengan jelas kepada anak-anak usia sekolah.
“Agar mereka nanti saat melanjutkan sekolah, perguruan tinggi, atau bekerja, mereka tidak terhambat karena kesulitan mendapatkan SKCK,” tandas dia. (*)
Editor: Farah Nazila





