Jateng

Mudik Naik Motor Bawa Anak, Ini Cerita Jarwo Tempuh 16 Jam dari Bekasi ke Boyolali

×

Mudik Naik Motor Bawa Anak, Ini Cerita Jarwo Tempuh 16 Jam dari Bekasi ke Boyolali

Sebarkan artikel ini
mudik
Jarwo bersama anak dan istrinya saat singgah di sekitar kawasan Gombel Baru dalam perjalanan mudik dari Bekasi ke Boyolali. Rabu, 18 Maret 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Mudik dengan sepeda motor masih menjadi pilihan banyak perantau, namun risikonya kian terasa, terutama bagi yang membawa keluarga. Seperti dialami Jarwo (35), pemudik asal Bekasi Timur yang harus menempuh perjalanan hingga lebih dari 16 jam menuju Boyolali akibat kemacetan panjang dan frekuensi istirahat yang meningkat.

Jarwo berangkat pada Rabu, 18 Maret 2026 pukul 00.00 WIB, membonceng istri dan anaknya yang masih berusia tujuh tahun. Harapannya, perjalanan malam hari lebih lengang. Namun kenyataan di lapangan justru sebaliknya.

Kemacetan sudah mulai terasa sejak kawasan Cikarang dan terus berlanjut hingga jalur Pantura.

“Kondisinya macet total semalam,” ujar Jarwo saat ditemui di sekitar kawasan Gombel Baru, Kota Semarang pada Rabu, 18 Maret 2026 sore.

BACA JUGA: Kapan Puncak Arus Mudik Lebaran 2026? Ini Prediksi di Tol Trans Jawa

Membawa anak kecil membuat Jarwo tak bisa memaksakan perjalanan. Ia memilih berhenti hampir setiap satu jam untuk beristirahat, memastikan kondisi keluarga tetap aman dan nyaman.

“Ini berhenti yang keenam kali. Soalnya bawa anak, jadi sering istirahat,” kata pria yang bekerja sebagai kuli bengkel tersebut.

Ia menilai kondisi jalan di Jawa Tengah relatif aman dilalui, meski pengendara tetap harus waspada terhadap tambalan aspal yang tidak rata dan beberapa lubang kecil di sejumlah titik.

“Aman, paling tambalan saja yang agak gronjal. Selama enggak ngebut, aman,” tuturnya.

Durasi perjalanan tahun ini jauh lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya Jarwo bisa sampai kampung halaman dalam waktu 10-12 jam, namun kini molor hingga lebih dari 16 jam karena kondisi lalu lintas dan kebutuhan istirahat yang lebih sering.

Meski melelahkan, ia tetap memilih mudik dengan sepeda motor karena dinilai lebih fleksibel. Jarwo bisa mengatur sendiri waktu keberangkatan dan lama tinggal di kampung halaman tanpa terikat jadwal.

“Enggak ikut mudik gratis karena waktunya enggak fleksibel, ada jadwalnya. Kalau mudik sendiri kan, bisa nentuin sendiri bersama keluarga di kampung mau berapa lama,” jelasnya.

Dari sisi biaya, moda ini juga teranggap lebih terjangkau. Sepanjang perjalanan, Jarwo baru menghabiskan sekitar Rp90.000 untuk bahan bakar, dengan total pengeluaran sekitar Rp300.000 termasuk kebutuhan makan.

Cerita serupa datang dari Harno (40), pemudik lain asal Bekasi yang menuju Wonogiri. Ia berangkat sejak pagi hari bersama dua rekannya, masing-masing menggunakan sepeda motor.

“Bawa motor sendiri-sendiri. Lama karena sering istirahat. Soalnya kan penerangan minim, jalannya juga tambalannya ada yang bergelombang,” ungkap Harno.

BACA JUGA: Cegah Penumpukan di KM 429A, Polres Semarang Arahkan Pemudik ke Rest Area KM 439A

Bagi para pemudik roda dua seperti Jarwo dan Harno, perjalanan panjang ini bukan sekadar soal kecepatan mencapai tujuan. Di tengah kemacetan, kondisi jalan yang menantang, dan rasa lelah, ada kebersamaan keluarga yang tetap mereka jaga sepanjang perjalanan menuju kampung halaman. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp