SEMARANG, beritajateng.tv – Saat mengunjungi sebuah kedai kopi atau cafe, tak jarang kita menemukan larangan merokok di dalam ruangan. Tak sedikit pula kedai yang kemudian memilih menyediakan area merokok secara khusus. Namun hal tersebut nampaknya tak berlaku untuk Mukti Cafe.
Terletak di Jalan K.H. Wahid Hasyim, Kelurahan Kranggan, Kota Semarang, Mukti Cafe adalah surga bagi para pecinta tembakau. Bagaimana tidak, kedai ini malah menyediakan puluhan jenis tembakau untuk pengunjung nikmati bersamaan dengan secangkir kopi.
Mukti Cafe memang mengusung konsep tobacco cafe. Berawal dari Toko Tembakau Mukti, barulah sejak sepuluh tahun terakhir tempat ini bertransformasi menjadi kedai tempat nongkrong anak muda.
“Ada berbagai jenis tembakau, dari Welari, Temanggung, Boyolali, Klaten, Sumedang, Garut, dan lainnya. Sampai sekarang kami juga masih menyuplai beberapa pabrik rokok di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” jelas pengelola Mukti Cafe, Ngabdulrahman Radika saat beritajateng.tv berkunjung, Jumat (1/09/2023).
Radika sapaan akrabnya menambahkan, tujuan utama berdirinya Mukti Cafe adalah untuk memperkenalkan tembakau ke masyarakat luas. Memperkenalkan bahwa tembakau bukan hanya menjadi produk rokok saja.
“Mukti Cafe itu tempat untuk mengenal tembakau, bahwa tembakau nggak cuma rokok, sampai 2015 orang mengira tembakau itu rokok, padahal nggak cuma rokok, tapi bisa jadi cerutu, pipa, kretek, juga klobot. Ada berbagai cara menikmati tembakau,” lanjutnya.
Di sini, pengunjung bisa berkonsultasi terkait jenis-jenis tembakau yang ada di lantai satu. Jika tertarik, pengunjung juga bisa membeli dalam jumlah sedikit, minimal 10 gram. Nanti seorang karyawan membantu ‘ngelinting’ tembakaunya.
BACA JUGA:Usung Konsep Tobacco Cafe, Mukti Cafe Manfaatkan Bekas Gudang Tembakau Berusia Ratusan Tahun
Upaya Kenalkan Ragam Tembakau ke Generasi Muda
Lebih jelas, Radika menjelaskan bahwa Mukti Cafe menyediakan tiga jenis tembakau. Yakni tembakau single, classic blend, serta flavour blend. Salah satu yang digemari pengunjung adalah flavour blend.
“Kalau masalah mana yang paling favorit, masing-masing orang punya seleranya sendiri, misal yang flavour blend itu ada yang varian grape mint, itu banyak dicari,” ungkapnya.
Di sisi lain, merintis kedai dengan konsep tobacco cafe yang menyediakan berbagai jenis tembakau bukan tanpa alasan. Radika menuturkan, dirinya hanya ingin mengembalikan tembakau pada aslinya.
“Kita terlalu sering merokok rokok bikinan pabrik yang jauh dari tembakau murni, padahal itu rasa aslinya, sedangkan rokok pabrik itu tembakau udah dicampur macem-macem, kita ingin mengembalikan ini lho tembakau yang asli,” ucapnya seraya melinting tembakau.
Meski begitu, Radika sadar bahwa tembakau memiliki efek buruk bagi tubuh. Oleh karenanya, ia tidak memaksa semua orang untuk mencintai tembakau. Baginya, tembakau, rokok, cerutu, atau apapun itu hanyalah hiburan semata.
“Walau kami jual tembakau kita juga nggak maksa orang untuk merokok, hanya kami menjaga eksistensi tembakau. Tapi kita tetap sadar bagaimanapun rokok itu hanya hiburan,” pungkasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





