Jateng

Muncul Isu Krisis Energi Lagi, Warga Desa Manggihan Semarang Sudah Olah Sampah Sayuran Jadi Biogas

×

Muncul Isu Krisis Energi Lagi, Warga Desa Manggihan Semarang Sudah Olah Sampah Sayuran Jadi Biogas

Sebarkan artikel ini
Isu Krisis Energi
Biodigeter penghasil biogas dari sampah atau limbah sayur yang terpasang di rumah warga Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Beberapa pekan terakhir isu mengenai krisis energi kembali mencuat seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Bayang-bayang dampak bagi ketahanan energi nasional pun semakin menjadi topik yang paling hangat dan ramai jadi perbincangan berbagai kalangan.

Di tengah situasi ini, laku bijak pemanfaatan energi alternatif telah tampak oleh warga Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Dalam tiga tahun terakhir mereka telah memanfaatkan sampah sayuran rumah tangga sebagai biogas guna mengurangi penggunaan LPG.

BACA JUGA: Dinas ESDM Jateng Kurangi Perjalanan Dinas: Dorong Rapat Pakai Zoom untuk Hemat Energi

Salah satu warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Sulastri (40), mengaku sudah tiga tahun memanfaatkan biogas dari sampah sayuran rumah tangga.

Selain praktis karena tiap hari dapyrnya menghasilkan sampah organik, energi alternatif ini juga mampu mengurangi pemakaian gas LPG untuk memasak.

“Jika konsumsi gas LPG [3 kilogram] bisa mencapai empat tabung per bulan, sekarang cukup tiga tabung per bulan,” jelasnya, Kamis, 2 April 2026.

Menurutnya, sebagian besar sampah organik rumah tangga bisa untuk terolah menjadi biogas untuk keperluan memasak.

Misalnya seperti sisa sayuran yang tidak terpakai, kulit buah-buahan, bahkan sampah-sampah hijau lainnya juga bisa terolah menjadi energi biogas.

Olah Sampah Sayuran Jadi Biogas di Tengah Isu Krisis Energi

Selain itu, caranya juga cukup sederhana. Sampah-sampah sayuran yang sudah dicacah dimasukkan ke dalam biodigester dengan dicampur air untuk difermentasi.

“Hasil fermentasi sampah sayuran ini kemudian menghasilkan gas metan yang tersalur langsung ke kompor dan bisa untuk memasak,” tuturnya.

Salah satu penggagas biogas sampah sayuran, Juwari, menambahkan, selama ini sampah sayuran rumah tangga hanya terbuang dan kurang termanfaatkan.

“Maka Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan menggagas biogas sampah sayuran agar lebih termanfaatkan,” ungkapnya.

Biodigeter penghasil biogas dari sampah atau limbah sayur ini juga desainnya cukup sederhana, baik dari ukuran maupun bahan baku.

BACA JUGA: Kunjungi Perusahaan di Bergas, Menaker: Pemerintah Siapkan Strategi Jika Industri Terdampak Krisis Energi

Bahan bakunya cukup memanfaatkan drum bekas (200 liter) serta ban dalam bekas untuk menampung hasil gas metan. Sehingga alatnya pun gampang memindahnya.

“Untuk instalasi juga dapatnya mudah, karena banyak toko bangunan yang jual,” lanjut Ketua Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan ini.

Juwari menambahkan, tidak hanya gas metan, air dari proses fermentasi (bioslurry) juga bisa untuk menyuburkan tanaman, yakni berupa pupuk cair.

Saat ini sudah ada 15 rumah yang memanfaatkan biogas sampah rumah tangga. Sesuai Program Kampung Iklim (ProKlim), inovasi ini akan dikembangkan di seluruh Desa Manggihan.

“Hanya saja, untuk saat ini masih ada beberapa kendala, terutama terkait penyediaan drum bekas untuk pembuatan mini biodigester,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp