Terlebih, tutur Fadli, museum merupakan wajah dari suatu daerah.
“Kita berharap Pemprov, Pemkab/kota juga mendorong masyarakat terutama para siswa untuk datang ke museum, karena dengan kita datang ke museum 1-2 jam, kita bisa langsung dapat pengetahuan yang luar biasa tentang daerah itu,” tuturnya.
Tak cuma batik, Gus Yasin ingin songket hingga lurik dapat pengakuan dunia
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin menyebut pameran ini bukan kali pertama bagi Museum Ranggawarsita terlibat dalam agenda tingkat nasional.
“Beberapa tahun lalu kita pengembangan museum nasional, termasuk museum nasional yang ada di Sangiran. Itu juga kita hadir, kolaborasi agar menarik masyarakat khusunya anak sekolah tingkat SD sampai SMP, syukur-syukur anak SMA mau berkunjung ke museum,” tutur Gus Yasin.
BACA JUGA: Cegah Koleksi Agar Tak Rusak, Begini Cara Museum Ranggawarsita Rawat Meriam Berusia Ratusan Tahun
Perihal pamerain kain, besar harapannya agar kain asal Jawa Tengah bisa mendapat pengakuan dunia lagi, sama seperti batik.
“Batik sudah masuk UNESCO 2009, akan tetapi kekayaan batik di bawahnya masih banyak, ada lurik, songket, dan sebagainya. Kita patenkan kain milik negara kita, kain-kain itu juga di berbagai daerah berbeda-beda,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila