Sunar bersama dua rekannya, almarhum Badri dan almarhum Karno, menjadi tokoh utama dalam proses pemindahan tersebut. Mereka mengangkut kayu satu per satu, memotong ulang, hingga merangkai kembali struktur bangunan setiap akhir pekan.
“Saya bawa kayu-kayu itu ke tempat gergajian tangan dulu, potong, terus buat lagi. Yang jadi soko ini dulunya bukan dari sini, tapi dari bangunan lama,” katanya.
Beberapa bagian asli masih bertahan hingga sekarang, termasuk tiang utama, ukiran kayu, serta struktur tumpangsari di bagian atas.
Pengusulan Jadi Cagar Budaya
Sunar mengungkapkan sempat muncul gagasan untuk menjadikan musala ini sebagai bangunan kuno yang terlindungi karena nilai sejarahnya. Namun rencana tersebut tidak terealisasi setelah tokoh pengusulnya meninggal dunia.
Akibatnya, musala sempat terbengkalai sebelum akhirnya di pindahkan dan di bangun kembali oleh warga. Seiring waktu, bangunan juga mengalami renovasi bertahap. Awalnya hanya berupa dinding setengah tembok dengan bagian atas terbuka.
Sekitar tahun 2000-an, pengurus mengajukan bantuan ke Pemerintah Kota Semarang dan mendapat dana sekitar Rp15 juta untuk memperbaiki struktur menjadi lebih permanen seperti sekarang. Meski demikian, unsur kayu asli tetap dipertahankan sebagai identitas utama.
BACA JUGA: Tanah Longsor Landa Sejumlah Titik Selama Dua Hari, Warga Kaligawe Kian Was-was
Keberadaan Mushola Bismillah menjadi simbol bagaimana kampung lama di pusat kota mampu bertahan di tengah modernisasi. Bangunan kayu yang mungkin berusia ratusan tahun itu kini menjadi pengingat sejarah kawasan Basahan yang telah berubah wajah.
Di tengah pesatnya pembangunan kota, Mushola Bismillah membuktikan bahwa warisan sejarah tidak selalu berupa bangunan megah. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana, tiang kayu tua yang tetap berdiri, menjaga cerita masa lalu agar tidak hilang karena zaman. (*)
Editor: Farah Nazila





