“Anaknya ada yang berdua, bertiga dalam satu bajaj. Yang penting semua senang dan bisa ikut menikmati kota,” katanya.
Berharap Bajaj Jadi Transportasi Inklusif
Lebih dari sekadar wisata kota, Novi berharap bajaj dapat berkembang sebagai moda transportasi inklusif di Semarang, tidak hanya bagi difabel tetapi juga lansia.
“Banyak orang tua atau lansia yang tidak bisa bergantung pada HP dan aplikasi. Bajaj ini bisa seperti becak, dipanggil langsung di jalan, itu sangat membantu,” ujarnya.
BACA JUGA: Berkah Hari Pahlawan, Pedagang Cilok Difabel di Semarang Dapat Motor Roda Tiga dari Bupati
Ia juga membuka peluang kerja sama antara komunitas difabel dengan pengelola bajaj, misalnya melalui voucher atau program khusus agar lebih terjangkau bagi komunitas.
“Kalau bisa ada voucher atau kerja sama komunitas, itu akan sangat membantu. Intinya, transportasi itu harus bisa semua orang akses,” pungkas Novi.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa transportasi inklusif bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga soal empati dan keberpihakan pada kelompok rentan di ruang publik kota. (*)
Editor: Farah Nazila





