SEMARANG, beritajateng.tv – Perjalanan panjang dan kisah menarik Nasida Ria selama 48 tahun menarik perhatian Wisnu Candra. Pemuda asal Kota Semarang itu mengangkat dan kemudian menampilkan lika-liku perjuangan Nasida Ria melalui film pendek yang juga film dokumenter.
Melalui film berjudul ‘Nasida Ria: Sun Stage’, sineas Semarang yang biasa disapa Wisnu itu berhasil menelurkan film dokumenter pertamanya pada November 2023 silam. Biasanya, ia lebih sering menggarap drama fiksi.
“Sebetulnya, tanpa kehadiran film ini Nasida Ria sudah dikenal anak-anak muda. Waktu itu ditandai bahwa mereka diundang di Synchronize. Jadi saya hanya memfilmkan sepenggal kisahnya Nasida Ria,” katanya kepada beritajateng.tv, beberapa waktu yang lalu saat pemutaran perdana Nasida Ria: Sun Stage di Hoops Space.
Dalam mengerjakan film ini, Wisnu membutuhkan proses riset dan pengerjaan hingga 12 bulan lamanya. Hal itu terhitung wajar lantaran banyak hal yang harus ia kulik dan rangkum.
Terlebih, merekam perjalanan Nasida Ria selama puluhan tahun menjadi sebuah film berdurasi 18 menit tidaklah mudah. Bahkan, selama 7 hingga 8 bulan pertama, ia belum tau arah film ini mau dibawa ke mana.
BACA JUGA: Menuju 50 Tahun Nasida Ria, Sebuah Perjalanan Panjang Majukan Musik Qosidah di Indonesia
Awalnya, Wisnu mengaku ingin mengangkat soal revolusi fesyen Nasida Ria khususnya jilbab dari masa ke masa. Namun, karena keterbatasan pengetahuan, Wisnu akhirnya memutuskan untuk mengangkat soal keberhasilan digitalisasi Nasida Ria.
“Karena Nasida Ria mengalami revolusi dari konvensional ke digital, aku memutuskan untuk menceritakan soal Pak Choliq bersama Nasida Ria. Proses revolusinya gimana sampai mereka bisa mencapai platform-platform yang usianya jauh di bawah,” ucapnya.
Kumpulkan ratusan foto Nasida Ria
Dalam menggarap film dokumenter ini, Wisnu tak sendirian. Ia menggandeng seniman kolase Semarang, Soni Prasetya Wasono.
Untuk mengumpulkan arsip dokumentasi, Wisnu mengajak siapapun yang memiliki rekam digital Nasida Ria untuk bisa berkontribusi. Hasilnya, terkumpul sekitar 17 folder, yang di dalamnya masih ada 5-8 folder lagi, dengan masing-masing berisi 30-50 foto.
Saking banyaknya, Wisnu mengaku sampai bingung untuk memilah foto mana saja yang akan digunakan.
“Pernah hampir 3 jam diem, bengong. Setelah itu akhirnya kita menemukan konsep kolasenya akan menggunakan scan scrap.
Jadi sepanjang kolase itu background paling belakang itu cover tape semua. Sementara kolase orang-orang itu dari foto,” tuturnya.
Sementara itu, Wisnu dalam menentukan judul pun punya maksudnya tersendiri. Terkhusus, dalam pemilihan subjudul ‘Sun Stage’ yang melibatkan pengalaman personal Wisnu dengan salah satu lagu Nasida Ria, Nabi Muhammad Mataharinya Dunia.
BACA JUGA: Intip Alunan Merdu OK Kesepuhan Semarang, Upayakan Eksistensi Musik Keroncong
“Aku punya pengalaman khusyuk tentang itu. Ketika aku dengar Nabi Muhammad Mataharinya Dunia, aku secara personally merasakan bisa masuk dimensi yang lain. Bukan maksud mengislamisasi, tapi aku punya pengalaman personal,” pungkasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





