SEMARANG, beritajateng.tv – Tim gabungan akhirnya menemukan Maryam (70), seorang nenek warga Mangkang Kulon RT 1 RW 1, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, yang hanyut akibat tanggul Sungai Plumbon jebol.
Korban tim gabungan temukan dalam kondisi meninggal dunia di sebuah selokan sejauh sekitar 800 meter dari lokasi awal hanyut.
Camat Tugu, Muhammad Mirzaq Effendi, mengatakan peristiwa bermula pada Jumat malam (15/5) sekira pukul 19.30 WIB setelah waktu Isya. Saat itu, debit air Sungai Plumbon meluap akibat tingginya kiriman air dari wilayah hulu.
“Awalnya ada cucu dan nenek yang melihat limpasan air. Tidak lama kemudian tanggul jebol dan langsung menyeret keduanya,” ujar Mirzaq.
Korban diketahui bernama Maryam, sedangkan cucunya, Rasya, berhasil selamat meski sempat terpental akibat derasnya arus air.
“Cucunya selamat dan tidak ikut hanyut, tetapi Mbah Maryam terbawa arus,” katanya.
Tim gabungan dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan warga langsung melakukan pencarian hingga tengah malam. Pencarian kemudian berlanjut pada Sabtu pagi.
“Alhamdulillah pencarian membuahkan hasil. Tepat pukul 07.35 WIB, Mbah Maryam kami temukan di sebuah selokan dalam kondisi meninggal dunia,” jelasnya.
Usai penemuan, petugas bersama pihak puskesmas langsung melakukan pemeriksaan awal sebelum jenazah di bawa pulang untuk pemakaman oleh pihak keluarga.
BACA JUGA: Banjir di Wonosari dan Mangkang Kulon Semarang, Satu Warga Hanyut Tersapu Banjir
Mirzaq menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam proses pencarian hingga evakuasi korban.
“Semua warga nyengkuyung. Kami berterima kasih kepada seluruh pihak yang ikut membantu pencarian dari awal kejadian sampai korban ditemukan,” ucapnya.
Selain menimbulkan korban jiwa, jebolnya tanggul juga menyebabkan banjir merendam permukiman warga di sejumlah RT. Mirzaq menyebut tanggul yang roboh memiliki panjang sekitar 50 meter dan kondisinya memang sudah rapuh karena faktor usia.
“Debit air dari wilayah Tambakaji sangat besar sehingga membuat tekanan air tinggi. Kondisi tanggul juga sudah tua dan mengalami banyak kerapuhan,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) segera melakukan normalisasi Sungai Plumbon dan pembangunan tanggul permanen agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Masyarakat sekarang merasa waswas. Harapan kami BBWS bisa segera melakukan penanganan permanen dan normalisasi sungai,” tegasnya.
Saat ini, petugas gabungan bersama warga masih melakukan penanganan darurat dengan pemasangan anyaman (Trucuk) bambu dan penguatan tanggul sementara untuk mencegah air kembali masuk ke permukiman apabila hujan deras turun lagi.
Mirzaq menyebut sedikitnya 200 kepala keluarga di RT 1 hingga RT 5 terdampak kejadian tersebut. Sementara kerugian material masih dalam proses pendataan.
“Kami fokus melakukan pengamanan agar air tidak kembali masuk ke permukiman warga jika hujan turun lagi,” pungkasnya. (*)





