SEMARANG, beritajateng.tv – Kinerja ekspor Jawa Tengah mulai terdampak perang AS-Iran, dengan nilai ekspor tercatat turun sekitar 7,23 persen atau setara 300 juta dolar AS pada periode terbaru.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah, July Emmylia, mengatakan dampak tersebut baru mulai terasa dalam satu bulan terakhir, setelah sebelumnya belum menunjukkan penurunan.
“Kalau ekspor, baru bulan ini terasa dampaknya. Terdampaknya itu sekitar 7,23 persen akibat perang itu,” ujar Emmy saat beritajateng.tv jumpai di kompleks DPRD Provinsi Jawa Tengah, Senin, 6 April 2026 sore.
BACA JUGA: Ekspor Tembus Rp53 T, Jateng Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Nasional
Emmy menegaskan, penurunan tersebut bukan berarti kerugian langsung, melainkan penurunan nilai ekspor akibat kondisi global.
“Mungkin sekitar 300 juta dolar, bukan kerugian tapi menurun nilainya,” jelasnya.
Amerika dan Timur Tengah jadi Pasar Paling Terdampak, Sektor Tekstil Jateng Terpukul
Emmy menyebut, penurunan ekspor paling terasa pada pasar utama Jawa Tengah, yakni Amerika Serikat dan kawasan Timur Tengah.
“Tentu di Amerika karena mayoritas negara tujuan ekspor kita itu di Amerika. Kemudian juga yang di Timur Tengah mulai terdampak, terutama tekstil dan produk tekstil,” kata dia.
Ia menambahkan, penurunan tersebut terpengaruhi oleh terganggunya distribusi serta menurunnya permintaan dari negara tujuan ekspor. Kendati begitu, tutur Emmy, ekspor ke Arab Saudi justru masih relatif stabil, bahkan mengalami peningkatan pada sektor tertentu.
“Karena distribusinya itu susah, kemudian permintaan dari pasar Amerika dan Timur Tengah berkurang. Untuk di Arab Saudi alhamdulillah stabil bahkan cenderung meningkat terkait dengan ekspor untuk makanan haji,” imbuh dia.
Di sisi lain, Emmy memastikan kondisi bahan pokok penting di Jawa Tengah masih dalam kondisi aman dan stabil. Ia menyebut, hingga saat ini belum ada dampak signifikan terhadap harga, termasuk dari sisi energi.





