“Kalau yang ditanya terkait pasokan, kemudian harga, dan stok bahan pokok penting sampai dengan saat ini aman. Belum, mudah-mudahan sih tidak ya, tidak ada pengaruh dari perang karena saat ini BBM-nya harganya masih normal,” katanya.
Namun, ia mengingatkan potensi risiko jika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak.
“Memang ini risikonya yang perlu kita antisipasi adalah ketika ada kenaikan harga BBM itu otomatis semua nanti pasti akan naik,” jelas Emmy.
Disperindag Dorong Pasar Eropa, Industri Jateng Diminta Beralih ke Green Industry
Sebagai langkah antisipasi, Disperindag Jawa Tengah mendorong pelaku industri untuk memperluas pasar ekspor ke kawasan Eropa. Namun, ia mengakui pasar Eropa memiliki persyaratan ketat, terutama terkait isu lingkungan.
“Yang kita upayakan adalah substitusi atau pengembangan tujuan pasar. Saat ini kita dorong ke Eropa. Di Eropa itu banyak ketentuannya, sangat fokus pada isu lingkungan, termasuk sertifikat EUDR,” jelasnya.
Untuk itu, Pemprov Jawa Tengah mendorong industri melakukan transformasi menuju konsep industri ramah lingkungan atau green industry. Disperindag, lanjut Emmy, juga telah menyediakan fasilitasi bagi pelaku usaha untuk mendukung proses tersebut.
“Ketika sudah punya sertifikat itu maka masuknya pasar Eropa akan lebih mudah. Kita ada kliniknya, ada sertifikatnya. Yang kita dorong itu adalah yang belum green industry untuk beralih,” ujarnya.
BACA JUGA: PAD Cilacap Tegaskan Hormati Proses PHI dalam Sengketa Hubungan Industrial
Terkait dukungan kepada pelaku industri, Emmy menyebut belum ada insentif maupun kompensasi khusus yang pemerintah daerah berikan.
Menurutnya, kebijakan insentif ekspor berada di kewenangan pemerintah pusat, sehingga peran daerah lebih pada fasilitasi.
“Kalau insentif kompensasi belum ada, karena dampaknya juga belum terlalu signifikan. Yang kita lakukan kita memberikan fasilitasi untuk bertransformasi ke green industry,” pungkas Emmy. (*)
Editor: Farah Nazila





