Ekbis

Nostalgia di Stasiun Tawang, Argo Merbabu Usung Livery Terinspirasi Kereta ABL-9000

×

Nostalgia di Stasiun Tawang, Argo Merbabu Usung Livery Terinspirasi Kereta ABL-9000

Sebarkan artikel ini
Nostalgia di Stasiun Tawang, Argo Merbabu Usung Livery Terinspirasi Kereta ABL-9000
Kereta Api Argo Merbabu Usung Livery Terinspirasi Kereta ABL-9000. (Ellya/beritajateng.tv)

ABL-9000 memiliki konfigurasi kelas 1 dan kelas 2 yang terpisah sekat berpintu. Kapasitasnya terdiri dari 12 tempat duduk kelas 1 dan 47 tempat duduk kelas 2.

DKA saat itu memesan 49 unit ABL-9000. Kereta tersebut di produksi tiga perusahaan asal Prancis, yakni Société Lorraine, Carel Fouché, serta Brissonneau et Lotz.

Pada masa awal pengoperasiannya, ABL-9000 untuk mendukung sejumlah layanan ekspres. Rutenya antara lain Jakarta-Surabaya, Jakarta-Semarang, Jakarta-Yogyakarta, dan Jakarta-Bandung.

Kereta tersebut juga memiliki catatan dalam sejarah nasional. ABL-9000 pernah terpakai untuk mendukung perjalanan peserta Konferensi Asia-Afrika pada 1955.

Seiring perubahan zaman, sejumlah ABL-9000 mengalami perubahan fungsi. Beberapa unit di konversi menjadi kereta kelas ekonomi. Kemudian sebagian lainnya kembali di ubah menjadi kereta kelas eksekutif pada dekade 1990-an.

“Yang kami hadirkan hari ini bukan sekadar tampilan livery lama. Ada cerita panjang di baliknya,” kata Luqman.

“Kereta yang dahulu menjadi bagian dari perjalanan penting pada masanya, kini inspirasinya hadir kembali melalui rangkaian KA Argo Merbabu dalam momentum HUT ke-81 KAI,” lanjutnya.

Ungkap Sejarah Tawang Lewat Puisi

Perayaan HUT KAI di Semarang tidak berhenti pada rangkaian kereta. KAI Daop 4 juga menghadirkan pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang” karya Louis-Philippe Dalembert.

Pembacaan puisi melibatkan sastrawan sekaligus akademisi Universitas Diponegoro, Triyanto Triwikromo, serta Ucik Fuadhiyah, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang yang juga dikenal sebagai sastrawati dan peneliti.

Stasiun Semarang Tawang dipilih bukan tanpa alasan. Bangunan tersebut berdiri sejak 1914 dan menjadi salah satu bagian penting dari sejarah perkeretaapian di Kota Semarang.

Selama lebih dari satu abad, Stasiun Tawang menjadi ruang bertemunya berbagai perjalanan. Orang datang, berangkat, bertemu, berpisah, dan menyaksikan perubahan Kota Semarang.

Pembacaan puisi kemudian membawa sisi lain dari sejarah tersebut. Stasiun tidak hanya dilihat sebagai tempat kereta berhenti, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan cerita manusia.

Luqman mengatakan kereta api dan sastra memiliki titik temu yang sama, yakni perjalanan manusia.