“Kereta api dan sastra memiliki satu ruang pertemuan yang sama, yaitu manusia dan perjalanannya. Stasiun menjadi tempat banyak cerita dimulai maupun berakhir,” ujarnya.
Karena itu, pembacaan puisi di Stasiun Tawang menjadi cara lain untuk memperkenalkan sejarah perkeretaapian kepada masyarakat.
“Melalui pembacaan puisi di Stasiun Tawang, kami ingin menghadirkan cara lain untuk melihat perjalanan kereta api, tidak hanya dari sisi sarana dan perjalanan, tetapi juga dari sisi budaya dan cerita manusia,” kata Luqman.
HUT ke-81 KAI Tak Sekadar Nostalgia
Kehadiran vintage livery dan pembacaan puisi membuat peringatan HUT ke-81 KAI di Semarang mengambil pendekatan yang berbeda.
KAI tidak hanya mengajak masyarakat melihat masa lalu melalui bentuk kereta. Sejarah juga dihadirkan melalui cerita, sastra, dan ruang stasiun yang masih digunakan hingga sekarang.
Stasiun Semarang Tawang sendiri dibangun pada 1914. Keberadaannya menjadi bagian dari perkembangan aktivitas perkeretaapian sekaligus perjalanan Kota Semarang.
Luqman mengatakan sejarah tersebut perlu terus mengenalkannya kepada masyarakat. Terutama generasi yang tidak mengalami langsung perjalanan kereta api pada masa lalu.
“81 tahun KAI adalah perjalanan yang panjang. Kami ingin merayakannya dengan mengingat dari mana perjalanan ini berasal. Menghargai cerita yang telah menjadi bagian dari sejarah, sekaligus terus melangkah bersama masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, kegiatan tersebut harapannya membuat sejarah perkeretaapian terasa lebih dekat dan tidak berhenti sebagai catatan masa lalu.
“Semoga rangkaian kegiatan ini dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan menikmati kembali sejarah perkeretaapian melalui cara yang lebih dekat,” tutup Luqman. (*)





