SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) meyakini iklim investasi di Jawa Tengah masih tetap menarik di tengah gonjang-ganjing kondisi global, termasuk isu Perang Dunia Ketiga yang dikhawatirkan berdampak pada negara-negara investor.
Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menyebut potensi dampak konflik global terhadap investasi memang ada. Namun, struktur ekspor dan ekosistem industri di Jawa Tengah ternilai masih memiliki daya saing.
“Mungkin berimbas ya. Kalau melihat potensi ekspor Jawa Tengah itu sekitar 45 sekian persen ke Amerika, dan itu terdominasi satu jenis, yaitu alas kaki. Memang ekosistem industri alas kaki di Indonesia itu ada di Jawa Tengah,” ujar Sakina saat beritajateng.tv jumpai di kantornya, Kamis, 22 Januari 2026.
Ia menjelaskan, karakter industri Jawa Tengah berbeda dengan provinsi lain. Menurutnya, Jawa Barat lebih kuat di ekosistem industri manufaktur kendaraan, sementara Jawa Tengah menjadi basis utama industri alas kaki.
“Kalau berbicara perbandingan dengan provinsi lain, Jawa Barat itu ekosistemnya industri manufaktur kendaraan. Tapi kalau industri alas kaki, itu ada di Jawa Tengah,” katanya.
BACA JUGA: Realisasi Investasi Jateng Terendah se-Pulau Jawa, DPMPTSP: Hanya 8 Kawasan Industri
Sakina mengakui, asosiasi industri juga telah menyampaikan peringatan dan antisipasi terkait kemungkinan perubahan global, termasuk perang tarif maupun perubahan regulasi internasional.
Kendati begitu, ia menyebut kondisi tersebut belum menggerus minat investasi ke Jawa Tengah.
“Dari Asosiasi Persepatuan Indonesia memang ada semacam warning-warning dan persiapan-persiapan ketika ada perang tarif atau regulasi yang berubah. Tapi kami melihat di tahun ini, ketika ada tarif dari Amerika yang penetapannya sekian persen lalu turun dan lain sebagainya, ternyata Jawa Tengah masih menarik,” katanya.
Ia menambahkan, hingga kini investasi di Jawa Tengah masih terdominasi negara-negara Asia Timur.
“Dominasinya investasi masih dari Asia Timur yang terus bertengger di situ,” ujarnya.





