“Infrastruktur makro sebenarnya sudah berjalan cukup baik. Namun kinerjanya sering terganggu oleh tumpukan sampah, sedimentasi, serta bangunan liar di bantaran sungai. Selain itu, pemerintah juga menghadapi tantangan biaya operasional dan pemeliharaan pompa yang terus bertambah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa penanganan banjir tidak lagi bisa mengandalkan satu instansi saja. Menurutnya, perlu pendekatan kolaboratif melalui konsep Octa Helix yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, aparat keamanan, media, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan warga.
“Penanganan tata air modern harus dilakukan secara terintegrasi. Semua pihak harus bergerak bersama. Kita membutuhkan aksi nyata, konsistensi, dan keberanian untuk berpikir global tetapi bertindak lokal demi masa depan Kota Semarang,” tegasnya.
Selain itu, Sriyana juga mendorong penguatan kapasitas masyarakat di tingkat RT dan RW. Salah satu usulannya adalah mengalokasikan sebagian anggaran lingkungan untuk mendukung gerakan pengelolaan sampah mandiri atau Zero Waste.
Menurutnya, pengurangan sampah sejak dari rumah tangga dapat membantu mencegah penyumbatan saluran drainase yang selama ini menjadi salah satu penyebab banjir perkotaan.
Koordinasi BBWS Pemali Juana
Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyambut baik masukan dari kalangan akademisi.
Dia menegaskan bahwa edukasi masyarakat akan menjadi salah satu fokus utama dalam program pengelolaan lingkungan dan pengendalian banjir di Kota Semarang.
Agustina mengatakan pemerintah kota terus memperkuat koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana untuk melakukan normalisasi dan pengerukan sungai. Bersamaan dengan pembersihan saluran drainase yang berjalan dengan dinas teknis.
“Kami sangat mengapresiasi analisis Prof Sriyana karena memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai persoalan banjir, mulai dari kawasan hulu hingga hilir. Pemkot Semarang akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, tetapi kami juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga saluran air, tidak menutup drainase, serta mulai memilah sampah dari rumah masing-masing,” kata Agustina.





