“Pasien bisa mengalami penurunan kesadaran akibat infeksi otak atau sesak berat karena pneumonia. Jika penanganannya terlambat, risiko kematian meningkat drastis,” kata Prof. Dominicus.
Hingga kini, penanganan Nipah masih bersifat suportif karena belum tersedia antivirus yang terbukti efektif. Sejumlah obat sempat dicoba, namun hasilnya masih kontroversial secara ilmiah.
IDAI Ingatkan Kesiapsiagaan Nasional
Terkait kesiapan Indonesia, Prof. Dominicus menilai pemerintah telah memiliki pedoman pencegahan, termasuk skrining di pintu masuk negara. Namun keterbatasan laboratorium PCR khusus Nipah masih menjadi tantangan.
“Kalau kasusnya satu atau dua, kita masih bisa menangani. Tapi jika jumlahnya meningkat, itu akan menjadi ujian besar,” ujarnya.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
BACA JUGA: Catat! Begini Gejala dan Cara Mencegah Penularan Virus Nipah yang Jadi Sorotan di India
“Virus ini memang mematikan, tapi kasusnya masih jarang. Edukasi dan pencegahan adalah kunci agar tidak terjadi hal yang buruk,” ujar dr. Piprim.
IDAI mengimbau masyarakat untuk mencuci dan mengupas buah sebelum mengonsumsinya, menghindari buah bekas gigitan kelelawar, serta memasak daging hingga matang sempurna. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





