Kesehatan

Pakar IDAI Ungkap Bahaya Virus Nipah: Fatalitas Tinggi, Belum Ada Obat dan Vaksin

×

Pakar IDAI Ungkap Bahaya Virus Nipah: Fatalitas Tinggi, Belum Ada Obat dan Vaksin

Sebarkan artikel ini
ilustrasi virus Nipah Virus
Ilustrasi virus (Foto: Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat dan pemangku kebijakan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Nipah, penyakit infeksi zoonotik dengan tingkat kematian tinggi yang hingga kini belum memiliki obat maupun vaksin.

Meski risikonya dinilai kecil untuk menjadi pandemi global, virus ini tetap berpotensi menimbulkan wabah lokal dengan dampak serius.

Pakar Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. Dominicus Husada, menyebut angka kematian virus Nipah berada di kisaran 40 hingga 75 persen, jauh lebih tinggi ketimbang Covid-19.

BACA JUGA: Belum Ada Kasus Virus Nipah di Semarang, Dinas Kesehatan Fokuskan Langkah Pencegahan

“Kalau bandingkan Covid yang fatalitasnya sekitar satu persen, Nipah jauh lebih mematikan. Ini yang membuat dunia sangat mewaspadainya,” ujarnya pada Kamis, 5 Februari 2026.

Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia dan hingga kini tercatat hampir 1.000 kasus secara global, terutama di Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Filipina.

Indonesia sendiri belum melaporkan kasus pada manusia, namun penelitian menunjukkan virus ini telah ditemukan pada kelelawar buah, yang menjadi inang alami Nipah.

Penularan Virus Nipah Tak Semudah Covid-19

Prof. Dominicus menjelaskan virus Nipah tidak menular secepat virus pernapasan seperti SARS-CoV-2 karena membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh hewan atau manusia yang terinfeksi.

“Untuk menjadi pandemi, penularannya harus sangat mudah dan cepat. Nipah tidak seperti itu, sehingga risikonya menjadi pandemi global relatif kecil. Namun bukan berarti nol,” jelasnya.

Penularan dapat terjadi melalui air liur, urine, atau darah hewan terinfeksi, konsumsi buah atau nira yang terkontaminasi kelelawar, serta kontak erat dengan pasien. Tenaga kesehatan dan keluarga pasien menjadi kelompok yang rentan bila pencegahan infeksi tidak dilakukan secara ketat.

BACA JUGA: Fakta-fakta Virus Nipah: Kasus Meningkat di India, Belum Ada Obatnya

Gejala awal infeksi Nipah kerap menyerupai penyakit ringan, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. Namun pada sebagian kasus, virus dapat menyerang sistem saraf pusat atau paru-paru.

“Pasien bisa mengalami penurunan kesadaran akibat infeksi otak atau sesak berat karena pneumonia. Jika penanganannya terlambat, risiko kematian meningkat drastis,” kata Prof. Dominicus.

Hingga kini, penanganan Nipah masih bersifat suportif karena belum tersedia antivirus yang terbukti efektif. Sejumlah obat sempat dicoba, namun hasilnya masih kontroversial secara ilmiah.

IDAI Ingatkan Kesiapsiagaan Nasional

Terkait kesiapan Indonesia, Prof. Dominicus menilai pemerintah telah memiliki pedoman pencegahan, termasuk skrining di pintu masuk negara. Namun keterbatasan laboratorium PCR khusus Nipah masih menjadi tantangan.

“Kalau kasusnya satu atau dua, kita masih bisa menangani. Tapi jika jumlahnya meningkat, itu akan menjadi ujian besar,” ujarnya.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

BACA JUGA: Catat! Begini Gejala dan Cara Mencegah Penularan Virus Nipah yang Jadi Sorotan di India

“Virus ini memang mematikan, tapi kasusnya masih jarang. Edukasi dan pencegahan adalah kunci agar tidak terjadi hal yang buruk,” ujar dr. Piprim.

IDAI mengimbau masyarakat untuk mencuci dan mengupas buah sebelum mengonsumsinya, menghindari buah bekas gigitan kelelawar, serta memasak daging hingga matang sempurna. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp