Sejumlah pihak bahkan berharap Anwar mendapat sanksi lebih berat. Salah satu anggota majelis menyampaikan dissenting opinion yang meminta pemberhentian tidak hormat. Pandangan tersebut memperkuat kritik terhadap keputusan yang dianggap belum maksimal.
Setelah pencopotan, Anwar Usman sempat melawan melalui jalur hukum. Ia menggugat keputusan tersebut dan menyebut ia kena fitnah. Langkah tersebut kembali memicu polemik luas.
Kini, masa pensiun membuka ruang refleksi bagi Anwar Usman. Di sisi lain, nama Gibran tetap sering dikaitkan dalam perbincangan publik terkait putusan tersebut.
Dengan pamitnya Anwar Usman dari MK, Hersubeno lantas bertanya-tanya siapa yang bakal menjaga Gibran dalam urusan politik di masa yang akan datang.
“Kalau begitu, siapa yang [kelak] akan jagain Gibran?” tuturnya.
Meski telah menjalani sanksi, stigma publik masih melekat kuat pada Anwar Usman. Masa depannya setelah pensiun masih menjadi tanda tanya. Publik menunggu apakah ia benar-benar mundur atau tetap aktif dalam dinamika kekuasaan. (*)





