SEMARANG, beritajateng.tv – Harapan petani cabai di Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari hasil panen harus kandas. Harga cabai di tingkat petani justru anjlok saat produktivitas tanaman sedang melimpah.
Kondisi tersebut terjadi karena curah hujan yang relatif rendah membuat tanaman cabai tumbuh lebih optimal. Selain itu, serangan penyakit dan hama juga relatif berkurang sehingga hasil panen petani cukup menjanjikan.
Mulyadi (72), petani cabai di Dusun Gondang, Desa Sumowono, mengungkapkan harga cabai jenis sret di tingkat petani saat ini hanya mencapai Rp 20.000 per kilogram.
Padahal, ketika mulai menanam cabai yang kini memasuki masa panen, harga di tingkat petani masih berada di kisaran Rp 75.000 hingga Rp 80.000 per kilogram.
“Selain cabai sret, harga cabai merah keriting di tingkat petani saat ini juga anjlok. Hanya berkisar Rp 16.000 per kilogram,” ungkapnya.
BACA JUGA: Dukung Produktivitas Petani, Bandara Ahmad Yani Semarang Berikan Bantuan Hand Tractor
Menurut Mulyadi, melimpahnya hasil panen cabai menjadi salah satu penyebab turunnya harga di tingkat petani. Selain itu, jumlah pembeli yang datang langsung ke lahan petani juga berkurang karena pasokan cabai sedang tinggi.
Ia menjelaskan, kondisi cuaca saat ini sebenarnya cukup ideal untuk menanam cabai. Curah hujan yang tidak terlalu tinggi membuat tanaman relatif terhindar dari gangguan penyakit.
Serangan hama juga cenderung berkurang sehingga produktivitas tanaman bisa maksimal. Dalam satu tanaman, rata-rata hasil panen bisa mencapai 0,5 hingga 0,8 kilogram.
“Kalau sekarang harga jual cabai di tingkat petani Rp 20.000 per kilogram, saya tidak rugi karena masih bisa menutup biaya produksi,” jelasnya.
Namun, keuntungan yang diperoleh Mulyadi memang tidak terlalu besar. Ia berharap harga cabai bisa kembali naik sehingga petani dapat memperoleh keuntungan yang lebih layak dari hasil panennya.





