Ia berharap nilai toleransi yang di peroleh siswa tidak berhenti pada kegiatan workshop. Sikap tersebut harapannya menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Ketua Geliat Skansay, Dewi Wulansari, mengatakan penguatan literasi budaya dan kewargaan penting untuk membentuk karakter siswa yang mampu hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan.
Menurut dia, budaya toleransi dan empati perlu di bangun melalui pembiasaan. Dengan begitu, siswa tidak hanya memahami konsep keberagaman, tetapi mampu menerapkannya dalam interaksi sehari-hari.
“Semakin kuat budaya toleransi dan empati, para siswa harapannya dapat membangun kehidupan yang lebih harmonis. Melalui pembiasaan sikap toleran dan empatik, kami berharap semakin banyak individu yang mampu menjadi pribadi inklusif,” kata Dewi. (*)





