Jateng

Pekerja Jateng 61 Persen Berpenghasilan Tak Tetap, BPS: Musim Panen Dorong Kenaikan Sektor Informal

×

Pekerja Jateng 61 Persen Berpenghasilan Tak Tetap, BPS: Musim Panen Dorong Kenaikan Sektor Informal

Sebarkan artikel ini
Pekerja Informal
Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Ali Said, saat dijumpai di Kota Semarang, belum lama ini. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Jumlah pekerja informal di Jawa Tengah terus menunjukkan peningkatan pada Februari 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat jumlah pekerja informal mencapai sekitar 13,04 juta orang atau sekitar 61 persen dari total penduduk bekerja di provinsi tersebut.

Jumlah tersebut meningkat ԁibanding Februari 2025 yang tercatat sekitar 12,65 juta orang. Di sisi lain, jumlah pekerja formal hanya mengalami kenaikan tipis dari 8,28 juta orang menjadi 8,34 juta orang.

Kondisi itu membuat dominasi pekerja informal di Jawa Tengah semakin menguat. Namun, Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Ali Said, menilai peningkatan pekerja informal tidak serta-merta menunjukkan adanya lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK).

BACA JUGA: FGD Kepatuhan BPJS Ketenagakerjaan di Klaten Dorong Perlindungan Pekerja Lintas Sektor

Menurutnya, kenaikan jumlah pekerja informal ԁipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari masuknya angkatan kerja baru hingga karakter musiman di sektor pertanian.

“Kalau bicara tenaga kerja ini kan ada angkatan kerja baru masuk. Kemudian juga pengaruh musiman pertanian,” ujar Ali Said saat beritajateng.tv jumpai di Kota Semarang, belum lama ini.

Ia mencontohkan sebagian masyarakat yang sebelumnya tidak bekerja, termasuk ibu rumah tangga, bisa masuk ke sektor informal saat musim tertentu.

“Dulunya mungkin dia enggak bekerja, mungkin dia sebagai ibu rumah tangga, ketika ada musim panen di pertanian dia secara musiman masuk ke situ juga bisa. Jadi tidak selalu mengindikasikan adanya PHK,” imbuhnya.

Musim Panen Dorong Penyerapan Pekerja Informal di Sektor Pertanian

Ali menjelaskan sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama peningkatan pekerja informal di Jawa Tengah. Menurutnya, kondisi tersebut biasanya terjadi pada Februari yang bertepatan dengan musim panen di sejumlah daerah.

Ia mengatakan pekerjaan seperti buruh tani harian maupun pekerja pertanian berbasis upah cenderung meningkat pada periode tersebut.

“Biasanya kalau di bulan Februari itu karena musim panen, di sektor pertanian yang tinggi itu bisa banyak menyerap tenaga kerja informal di sana,” katanya.

Ia menyebut peningkatan pekerja informal umumnya terjadi di wilayah yang memiliki potensi pertanian tinggi.

“Biasanya kalau musim panen kan di bulan-bulan Februari. Ya pasti ada kenaikan, misalnya pekerjaan buruh tani yang sifatnya subsisten atau kerja upah di pertanian itu biasanya banyak di bulan-bulan ini,” lanjut Ali.

Angkatan Kerja Baru Banyak yang Belum Masuk Sektor Formal

Selain faktor musiman, Ali menilai peningkatan pekerja informal juga berkaitan dengan bertambahnya angkatan kerja baru setiap tahun.

Ali menyebut, tidak seluruh tambahan tenaga kerja dapat langsung terserap ke sektor formal sehingga sebagian akhirnya masuk ke sektor informal.

“Ketika tidak semua terserap ke formal, mereka kembali ke informal biasanya,” ujarnya.

BACA JUGA: Paguyuban Pekerja Terminal Bawen Gelar Aksi Tutup Kios dan Gerai Agen Tiket Serentak

Ia menilai pola tersebut tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, melainkan juga muncul di sejumlah wilayah lain di Indonesia.

“Itu saya kira pola yang tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, tapi juga di sebagian besar wilayah Indonesia kondisinya seperti itu,” katanya.

BPS Sebut Sektor Formal Masih Topang Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat Jateng

Meski sektor informal memiliki peran penting dalam menopang perekonomian utamanya saat kondisi ekonomi melemah, Ali menilai sektor formal masih menjadi harapan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, sektor informal selama ini kerap menjadi bantalan ketika terjadi tekanan ekonomi atau gelombang PHK.

“Saya kira kita tahu bahwa sektor informal sebenarnya menopang perekonomian ketika krisis,” ujarnya.

Ali menilai sektor formal menawarkan sejumlah keuntungan yang lebih stabil, mulai dari tingkat upah, jaminan sosial, hingga jenjang karier.

“Betul, jaminan sosialnya ada. Kemudian upahnya cenderung lebih baik daripada informal dan ada jenjang kariernya juga,” jelasnya.

Ia berharap pengembangan kawasan industri maupun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Jawa Tengah dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja formal.

Ali juga mencontohkan fenomena saat terjadi gelombang PHK di industri tekstil, ketika banyak pekerja akhirnya beralih ke sektor informal seperti ojek online maupun usaha kecil.

“Nah, setelah mereka habis di-PHK dari situ, banyak yang akhirnya lari ke informal. Menjadi ojek online dan sebagainya itu banyak sekali,” pungkasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp