Pengurus KKMP Lodoyong juga getol menggunakan media sosial untuk mempromosikan produk yang mereka jualnya. “Itu beberapa kiat yang kami lakukan,” imbuhnya.
Tri menyampaikan, meski KKMP Lodoyong telah berjalan, namun belum memiliki gedung mandiri. Di satu sisi, kegiatan usaha terus berkembang dan butuh bangunan yang lebih luas.
“Ruangan di sini sempit dan tersembunyi, tidak terlihat dari jalan. Karena itu kami menunggu keputusan dari pemerintah daerah terkait lahan untuk gerai KKMP,” tegasnya.
Sementara Kepala Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Tengah, Eddy Sulisityo Bramiyanto, mengapresiasi semangat dan kerja keras pengurus KKMP Lodoyong tersebut.
“KKMP Lodoyong mampu menjawab keinginan dan kebutuhan masyarakat yang ada di lingkungannya hingga mampu baru satu semester meraih omzet Rp3 juta per hari,” ujarnya.
Menurut Bramiyanto, KKMP Lodoyong menjadi potret dari kekuatan SDM pengurus KKMP dan jiwa entrepreneurship. “Mereka mampu mengelola dan melihat ceruk pasar,” kata Bram.
Di Jawa Tengah, lanjutnya, ada 8.523 Koperasi Merah Putih dan yang sudah beroperasi sebanyak 6.271. Dari jumlah tersebut, anggota koperasi tercatat 200.007 orang.
Sementara simpanan dari anggota sebanyak Rp34 miliar. Karena itu, Dinas Koperasi UKM terus mendorong mitra bisnis seperti Bank Jateng, Bulog, BRI, dan produsen pupuk, untuk bergabung.
“Dengan Bank Jateng sudah terkoneksi 4.600 gerai, omzet Rp5 miliar; dengan BRILink, omzet Rp3 miliar. Dengan demikian, potensi lokal yang hadir di KMP adalah kekuatan ekonomi,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





