SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyiapkan lahan hunian sementara atau huntara bagi warga terdampak bencana tanah gerak di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang.
Lahan tersebut berlokasi di Rowosari dan diproyeksikan menjadi solusi relokasi sementara bagi para korban tanah gerak Jangli.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengatakan pemerintah telah merancang penyediaan huntara sesuai kebutuhan warga. Meski masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan.
“Kami sudah menyiapkan huntara di Rowosari. Secara kebutuhan sebenarnya cukup banyak, tapi saat ini baru kami siapkan sekitar seribu unit,” ujarnya.
Namun, rencana tersebut belum sepenuhnya mendapat respons positif dari warga terdampak. Sebagian besar warga memilih tetap bertahan di Jangli karena alasan ekonomi.
“Warga ingin tetap tinggal di Jangli karena sumber penghidupan mereka ada di sana. Kalau pindah ke Rowosari, jarak ke tempat kerja jadi lebih jauh dan biaya harian mereka meningkat,” jelas Agustina.
Pemerintah pun membuka ruang dialog untuk mencari solusi terbaik. Menurutnya, aspek ekonomi menjadi pertimbangan penting selain penyediaan tempat tinggal.
“Kami memahami kebutuhan warga tidak hanya soal tempat tinggal, tetapi juga bagaimana mereka bisa tetap menjalani aktivitas sehari-hari. Ini yang sedang kami kaji lebih lanjut,” katanya.
BACA JUGA: Ahmad Luthfi soal Janji Relokasi Warga Jangli Terdampak Tanah Gerak: Perlu Koordinasi dengan Wali Kota
Ia juga mengingatkan bahwa kawasan terdampak tanah gerak merupakan zona berbahaya yang tidak layak di huni kembali. Pemerintah berharap warga dapat mempertimbangkan faktor keselamatan.
“Kalau warga tetap kembali ke lokasi, itu berisiko karena masuk zona rawan. Kami berharap huntara bisa menjadi solusi yang aman,” ujarnya.
Pemkot Semarang telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Perumahan untuk mempercepat penanganan, termasuk kemungkinan dukungan tambahan fasilitas bagi warga terdampak.
Sementara itu, hingga kini puluhan warga masih bertahan di tenda pengungsian. Data sementara mencatat sekitar 65 jiwa dari 25 kepala keluarga terdampak langsung bencana tersebut.




