Namun, ia menekankan jika besaran iuran tiap angkatan dan tiap mahasiswa berbeda. Misalnya untuk angkatan Angga, tiap mahasiswa rata-rata hanya Rp10 juta per bulannya.
“Kalau saya kebanyakan Rp10 juta, kalau di akhir bulan ada sisa, di kembalikan.
Jadi kalau sudah naik semester kita tidak iuran lagi karena yang membelikan makan juniornya,” tutur Angga.
Kendati demikian, Angga yang merupakan senior dr. Aulia Risma Lestari itu enggan menyebut iuran bulanan itu sebagai pemalakan. Apalagi perundungan. Sebab, kata dia, tidak ada pemaksaan.
Ia menyebut, iuran bulanan itu tidak bersifat wajib. Tidak ada hukuman jika memang tidak mampu membayar. Bahkan, ia menyebut jika dr. Aulia Risma Lestari termasuk yang tidak ikut membayar.
“Almarhumah ketika sudah senior makannya juga dibelikan oleh adiknya (junior) yang paling kecil. Jadi memang pembelian makanan itu dibantu oleh adik yang paling kecil agar yang di dalam kamar operasi tetap bisa di kamar operasi, menjalani pembiusan,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





