Jateng

Penutupan Jalan Gombel Lama 7 Bulan, Akses Motor Dibuka Terbatas, Warga Khawatir Kehilangan Penghasilan

×

Penutupan Jalan Gombel Lama 7 Bulan, Akses Motor Dibuka Terbatas, Warga Khawatir Kehilangan Penghasilan

Sebarkan artikel ini
gombel lama semarang
Penutupan Jalan Gombel Lama yang membuat warga yang berjualan di kawasan tersebut resah karena tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Jumat, 17 April 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Rencana penutupan Jalan Gombel Lama selama sekitar tujuh bulan mulai 20 April 2026 mendatang menimbulkan kekhawatiran bagi warga di Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik. Selain soal akses jalan, nasib pelaku usaha kecil di sekitar lokasi juga menjadi sorotan.

Ketua RT 06 RW 05 Gombel Lama, Tugimin, mengatakan selama proses pengerjaan, akses keluar masuk warga tetap buka terbatas, khususnya untuk kendaraan roda dua. Namun, kendaraan roda empat dipastikan tidak bisa melintas.

“Untuk warga tetap dikasih jalan untuk akses keluar masuk untuk motor. Kalau mobil enggak bisa, terus terang mobil itu disarankan di lingkungan sekitar, enggak bisa untuk aktivitas,” jelas Tugimin saat beritajateng.tv temui di kediamannya pada Jumat, 17 April 2026.

BACA JUGA:Jalan Gombel Lama Rusak Berulang Akibat Tanah Bergerak, Warga Harap Perbaikan Tuntas

Ia menyebut, kebijakan tersebut berdasarkan komunikasi dengan pihak pelaksana proyek. Bahkan, kendaraan proyek seperti pengangkut material masih bisa masuk ke lokasi.

“Akses motor masih bisa untuk warga, karena dari pihak proyek juga ada mobil material yang masuk,” tambahnya.

Dampak penutupan ini terasa oleh warganya yang berjumlah sekitar 9 kepala keluarga (KK). Namun secara keseluruhan, proyek ini berdampak pada satu RW, yakni RW 05. Meski begitu, Tugimin mengaku belum mengetahui secara pasti keluhan utama warga karena proyek masih dalam tahap awal.

Ia juga mengindikasikan bahwa proyek tersebut merupakan bagian dari pembangunan infrastruktur berskala besar. Mengingat jalan tersebut merupakan akses nasional dan pemerintah pusat kerjakan.

“Kemungkinan ada pembangunan besar, karena ini akses jalan nasional dan yang mengerjakan dari pusat,” ujarnya.

Kekhawatiran Pedagang Sekitar Jalan Gombel Lama

Sementara itu, salah satu pedagang di sekitar Jalan Gombel Lama, Sulis, mengungkapkan kekhawatiran terkait dampak ekonomi akibat penutupan jalan. Ia yang menggantungkan penghasilan dari usaha kecil mengaku bingung jika akses ditutup total.

“Kalau penutupan sampai 7 bulan ini, yang warga yang jualan gimana? Ya pada bingung, soalnya jualannya kan terus mati,” keluhnya saat beritajateng.tv temui di lapaknya yang terletak di pinggir Jalan Gombel Lama.

Menurut Sulis, sosialisasi memang sempat terlaksana, namun tidak semua warga memahami detail kebijakan tersebut. Ia juga menyebut belum ada kejelasan terkait kompensasi bagi warga terdampak.

“Kemarin ada sosialisasi, tapi kita kurang paham. Katanya enggak ada kompensasi, tapi ke depannya belum tahu,” katanya.

Hal serupa juga Shifa sampaikan, ia merupakan warga yang juga berjualan makanan di sekitar Jalan Gombel Lama. Ia menyebut penutupan jalan perkiraannya berlangsung selama tujuh bulan, bahkan bisa lebih lama jika terkendala cuaca.

“Perkiraan mulai 20 April, penyelesaian sekitar 7 bulan, kalau tidak ada musim hujan. Kalau ada hujan, bisa tambah lagi,” jelas Shifa.

Ia mengungkapkan, hingga kini belum ada kompensasi bagi pelaku usaha di sekitar lokasi proyek. Padahal, penutupan jalan berpotensi menghilangkan pelanggan, terutama dari kalangan pengemudi truk yang biasa singgah.

“Belum ada kompensasi dari pihak terkait. Katanya nanti ada pendataan untuk yang punya usaha, tapi belum masuk,” ujarnya.

Shifa mengungkapkan, pendapatan dari warungnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari, dengan sebagian besar berasal dari penjualan rokok dan makanan kepada sopir dan pekerja yang melintas.

“Paling banyak dari rokok, dari sopir truk atau ojek,” katanya.

Meski akses bagi warga lokal disebut masih tersedia, penutupan total untuk kendaraan besar dipastikan akan berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Warga berharap ada solusi dari pemerintah maupun pihak proyek, baik berupa kejelasan akses maupun kompensasi, agar mereka tetap bisa bertahan selama masa pengerjaan berlangsung.

BACA JUGA: Trans Semarang Mogok Keluarkan Asap Putih di Tanjakan Gombel, Begini Penjelasan dan Kronologinya

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 BBPJN Jawa Tengah-DIY, Alfan Noor Rizal, mengatakan percepatan tersebut terlaksana seiring penutupan total akses jalan selama pekerjaan berlangsung.

“Target kita kemarin kita rencanakan 7 bulan, tapi kami berupaya bisa lebih cepat dari itu. Kami kemarin dapat ultimatum, setidaknya 3 atau 4 bulan kami upayakan sudah selesai,” ujarnya. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp