Ia menyebut, kloter terakhir jemaah umrah Ramadan dari agen Dewangga dijadwalkan pulang hari ini dengan jumlah 36 orang. Adapun jemaah tersebut berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
“Kalau kami yang kloter terakhir ini hanya 36 orang sih yang terakhir ini kepulangan nanti. Asal jamaah ada di beberapa daerah. Ada Kendal, Kudus, Pati, dan Temanggung, dan Semarang,” jelasnya.
Terkait situasi keamanan, Joko menegaskan pihaknya terus memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan maskapai.
“Kalau aman tidaknya kami belum bisa karena dari airline yang saya bawa untuk Syawal itu masih dalam jadwal, masih on schedule,” ujarnya.
Ia menyebut travel menggunakan kebijakan maskapai sebagai acuan utama.
“Kalau airline masih menerbangkan berarti airline sudah melakukan kajian bahwa benar-benar situasi aman. Jadi kalau airline menyatakan oke masih schedule, masih terjadwal, bisa terbang, berarti kondisi benar-benar sudah aman,” katanya.
Lebih jauh, pihaknya juga telah menyampaikan imbauan kepada jemaah agar tetap tenang dan bersabar menyikapi situasi global tersebut.
“Kami himbau mereka untuk tenang dan bersabar ya, sambil kami memantau perkembangan situasi eskalasinya bagaimana dan kami juga selalu berkomunikasi secara berkala dengan airline. Kami barometernya airline,” ujarnya.
Terlebih, kata Joko, kondisi saat ini merupakan situasi force majeure atau keadaan kahar berskala global.
“Kami mengimbau kepada jemaah-jemaah kami bahwa ini bukan kehendak siapa-siapa. Artinya ini benar-benar force majeure, skalanya global, jadi tetap bersabar yang sudah punya jadwal-jadwal untuk penerbangan-penerbangan berikutnya,” pungkas Joko. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





