Pendidikan

Perkuat Literasi Numerasi, 108 Guru SMP Semarang Ikuti Lomba Kompetensi STEM di MAJT 

×

Perkuat Literasi Numerasi, 108 Guru SMP Semarang Ikuti Lomba Kompetensi STEM di MAJT 

Sebarkan artikel ini
Guru SMP lintas mata pelajan saat mengukur berbagai macam objek di kawasan Masjid agung Jawa Tengah (MAJT) Kota Semarang, Rabu, 14 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Guru SMP lintas mata pelajan saat mengukur berbagai macam objek di kawasan Masjid agung Jawa Tengah (MAJT) Kota Semarang, Rabu, 14 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Menurut Miftahudin, penggunaan MathCityMap membuat peserta harus menyelesaikan persoalan berdasarkan kondisi objek yang sebenarnya. Panitia juga dapat memantau ketepatan jawaban, waktu pengerjaan, hingga pergerakan setiap kelompok menuju titik tantangan.

“Jadi, mereka menyelesaikan permasalahan nyata dengan menggunakan konsep matematika. Mereka harus datang ke lokasi karena harus mengukur dan menghitung langsung di tempat,” katanya.

Dia mencontohkan, konsep matematika yang selama ini dianggap abstrak, termasuk integral, dapat peserta gunakan untuk memperkirakan luas lahan yang akan ditanami rumput.

Dengan pendekatan tersebut, kata Miftahudin, guru harapannya mampu menunjukkan hubungan antara materi pelajaran dan persoalan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan tidak berhenti pada pengukuran. Pada tugas keenam, peserta diminta membuat jembatan menggunakan stik es krim melalui pendekatan STEM Trails.

Setiap kelompok harus mendokumentasikan proses pembuatan jembatan dalam lembar kerja dan video berdurasi sekitar tiga menit. Hasil karya kemudian diuji menggunakan beban yang telah disiapkan panitia, sedangkan aspek estetika turut menjadi bagian penilaian.

“Guru tidak hanya mengerjakan soal, tetapi mereka membuat sebuah proyek. Kami ingin mengetahui proses mereka membuat proyek itu seperti apa, termasuk kekuatan dan estetikanya,” kata Miftahudin.

Pemahaman Guru dan Sarana Sekolah Masih Menjadi Tantangan

Meski pembelajaran STEM telah mulai berkembang di sejumlah sekolah, Miftahudin mengakui penerapannya di SMP Kota Semarang belum maksimal.

Salah satu kendalanya, kata dia, belum semua guru memahami bagaimana menerapkan pendekatan tersebut secara konkret dalam kegiatan belajar mengajar.

Selain pemahaman guru, keterbatasan sarana dan prasarana juga menjadi tantangan. Sejumlah proyek membutuhkan peralatan pendukung yang belum tentu tersedia secara memadai di setiap sekolah.

BACA JUGA: Relawan Jogo Kali Apresiasi Program Tanam Pohon Rutin untuk Jaga Sumber Air

Dinas Pendidikan Kota Semarang berupaya memperkuat penerapan STEM melalui pelatihan luring dan daring, menghadirkan narasumber, serta mendorong pengawas sekolah melakukan supervisi dan pendampingan kepada guru.