Pendidikan

Perkuat Literasi Numerasi, 108 Guru SMP Semarang Ikuti Lomba Kompetensi STEM di MAJT 

×

Perkuat Literasi Numerasi, 108 Guru SMP Semarang Ikuti Lomba Kompetensi STEM di MAJT 

Sebarkan artikel ini
Guru SMP lintas mata pelajan saat mengukur berbagai macam objek di kawasan Masjid agung Jawa Tengah (MAJT) Kota Semarang, Rabu, 14 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Guru SMP lintas mata pelajan saat mengukur berbagai macam objek di kawasan Masjid agung Jawa Tengah (MAJT) Kota Semarang, Rabu, 14 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – 108 guru SMP di Kota Semarang mengikuti kompetensi Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM) Trails berbasis aplikasi MathCityMap (MCM), di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Rabu, 14 Oktober 2026.

Di sini, para peserta tidak cukup hanya mengandalkan rumus dan teori. Akan tyetapi harus mendatangi titik-titik soal, melakukan pengukuran langsung, mengolah data, hingga memasukkan jawaban melalui aplikasi di ponsel Android.

Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Kota Semarang, Miftahudin, mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi guru.

“Kegiatan untuk peningkatan kompetensi literasi dan numerasi guru-guru dengan tema STEM Trail berbasis City Map. Kegiatan ini sudah kami mulai di tahun 2024,” kata Miftahudin.

Dia berharap, pengalaman yang peserta peroleh, bisa mereka terapkan kembali dalam proses pembelajaran di sekolah.

Mengukur Objek Nyata hingga Merancang Jembatan

Dalam lomba tersebut, peserta dibagi menjadi 36 kelompok yang masing-masing terdiri atas tiga guru. Mereka berasal dari 12 sub rayon di Kota Semarang, dengan tiga tim setiap sub rayonnya.

Lima tantangan pertama mengharuskan peserta memecahkan persoalan matematika melalui aplikasi MathCityMap. Lokasi dan objek di kawasan MAJT menjadi bagian dari soal yang harus mereka selesaikan dengan pengamatan serta pengukuran secara langsung.

Peserta, misalnya, mengukur luas kolam untuk memperkirakan kapasitas ikan, menghitung kebutuhan cat berdasarkan luas bedug, serta membandingkan ukuran replika Ka’bah dengan bangunan aslinya. Ada pula tantangan menghitung tinggi, kemiringan, dan luas bidang berbentuk lingkaran.

Para guru terlihat berbagi tugas ketika menyelesaikan persoalan. Sebagian menggunakan meteran untuk mengukur objek, sementara anggota kelompok lainnya mencatat data dan menghitung hasil pengukuran sebelum mengirimkan jawaban melalui aplikasi.

BACA JUGA: Langkah Keluarga Aqib Siswa SD Korban Perundungan di Pemalang, Laporkan Kelalaian Kepsek ke Inspektorat

Menurut Miftahudin, penggunaan MathCityMap membuat peserta harus menyelesaikan persoalan berdasarkan kondisi objek yang sebenarnya. Panitia juga dapat memantau ketepatan jawaban, waktu pengerjaan, hingga pergerakan setiap kelompok menuju titik tantangan.

“Jadi, mereka menyelesaikan permasalahan nyata dengan menggunakan konsep matematika. Mereka harus datang ke lokasi karena harus mengukur dan menghitung langsung di tempat,” katanya.

Dia mencontohkan, konsep matematika yang selama ini dianggap abstrak, termasuk integral, dapat peserta gunakan untuk memperkirakan luas lahan yang akan ditanami rumput.

Dengan pendekatan tersebut, kata Miftahudin, guru harapannya mampu menunjukkan hubungan antara materi pelajaran dan persoalan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan tidak berhenti pada pengukuran. Pada tugas keenam, peserta diminta membuat jembatan menggunakan stik es krim melalui pendekatan STEM Trails.

Setiap kelompok harus mendokumentasikan proses pembuatan jembatan dalam lembar kerja dan video berdurasi sekitar tiga menit. Hasil karya kemudian diuji menggunakan beban yang telah disiapkan panitia, sedangkan aspek estetika turut menjadi bagian penilaian.

“Guru tidak hanya mengerjakan soal, tetapi mereka membuat sebuah proyek. Kami ingin mengetahui proses mereka membuat proyek itu seperti apa, termasuk kekuatan dan estetikanya,” kata Miftahudin.

Pemahaman Guru dan Sarana Sekolah Masih Menjadi Tantangan

Meski pembelajaran STEM telah mulai berkembang di sejumlah sekolah, Miftahudin mengakui penerapannya di SMP Kota Semarang belum maksimal.

Salah satu kendalanya, kata dia, belum semua guru memahami bagaimana menerapkan pendekatan tersebut secara konkret dalam kegiatan belajar mengajar.

Selain pemahaman guru, keterbatasan sarana dan prasarana juga menjadi tantangan. Sejumlah proyek membutuhkan peralatan pendukung yang belum tentu tersedia secara memadai di setiap sekolah.

BACA JUGA: Relawan Jogo Kali Apresiasi Program Tanam Pohon Rutin untuk Jaga Sumber Air

Dinas Pendidikan Kota Semarang berupaya memperkuat penerapan STEM melalui pelatihan luring dan daring, menghadirkan narasumber, serta mendorong pengawas sekolah melakukan supervisi dan pendampingan kepada guru.

“Kendala pertama, guru-guru kami belum sepenuhnya memahami praktik STEM dalam pembelajaran. Kemudian, ada beberapa proyek yang membutuhkan sarana prasarana, sementara sarana prasarana belum tersedia secara maksimal,” katanya.

Miftahudin mengatakan, kegiatan tahun ini secara khusus menyasar guru SMP setelah pelaksanaan sebelumnya melibatkan siswa dan guru sekolah dasar maupun siswa SMP.

“Kami ingin menjadikan guru-guru di Kota Semarang menjadi guru-guru yang hebat, yang kompetensi literasinya bagus. Kami meyakini jika guru-gurunya hebat, pasti nanti murid-muridnya juga akan menjadi hebat terkait dengan peningkatan kompetensi literasi dan numerasi,” katanya.

Dia berharap lomba berbasis MathCityMap dan STEM Trails dapat memberikan contoh praktik yang bisa dikembangkan guru di kelas masing-masing. Benda dan lingkungan sekitar, menurutnya, berpotensi menjadi sumber pembelajaran tanpa harus selalu bergantung pada penjelasan teori.

Guru Lintas Mata Pelajaran Diajak Mengembangkan STEM

Berbeda dengan kompetisi matematika yang hanya berfokus pada kemampuan berhitung, kegiatan ini melibatkan guru dari berbagai mata pelajaran. Setiap kelompok terdiri atas guru dari sekolah berbeda dan tidak hanya diisi oleh guru matematika.

Pendekatan tersebut menggabungkan sains, teknologi, teknik atau engineering, serta matematika dalam satu proses pembelajaran. Melalui proyek jembatan, misalnya, peserta tidak hanya menggunakan perhitungan matematis, tetapi juga perlu mempertimbangkan konstruksi dan ketahanan bangunan.

Perwakilan panitia, Bavo Manon Nugroho, mengatakan, lomba ini menjadi kesempatan bagi guru lintas mata pelajaran untuk terlibat dalam pembelajaran berbasis STEM. Kegiatan tersebut juga diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Guru.

“Lomba ini yang pertama untuk guru SMP. Kegiatan ini dalam rangka Hari Guru, tidak hanya guru matematika, tetapi dari berbagai mata pelajaran bisa bergabung. Ada yang IPA, informatika, guru olahraga, dan sebagainya,” kata Bavo.

BACA JUGA: Robot SAR Mahasiswa UKSW Sabet Juara 1 UNLIMITED 2026, Tim Legacy R2C Ungkap Rahasianya

Akademisi Universitas Negeri Semarang (Unnes), Adi Cahyo Nugroho, mengatakan, STEM Trails pengembangannya untuk memperluas pembelajaran matematika.

Adanya itu dengan melibatkan sains, teknologi, dan teknik. Lingkungan sekitar dapat berguna sebagai sumber belajar untuk mendorong guru maupun siswa memecahkan persoalan secara langsung.

Pemanfaatan lokasi ikonik seperti MAJT juga menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran kontekstual. Sebelumnya, kegiatan serupa telah ada gelarannya di Semarang Zoo dan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), serta sejumlah lokasi lain di Kota Semarang. (*)

Editor: Diaz A Abidin

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp