SEMARANG, beritajateng.tv – Kota Semarang merupakan salah satu daerah pesisir pantai utara (Pantura) Pulau Jawa yang menjadi daerah penghasil ikan laut di Jawa Tengah. Tak heran jika kemudian banyak bermunculan aktivitas usaha di bidang pengolahan ikan, seperti halnya ikan asap.
Salah satu sentra ikan asap yang cukup tersohor di Kota Semarang ialah Kampung Mangoet yang terletak di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara.
Di sana, masyarakat memproduksi berbagai jenis ikan dari hasil laut. Bahkan, ikan asap menjadi penopang ekonomi utama masyarakat setempat.
Tiap harinya, kepulan asap dari puluhan cerobong memenuhi salah pojok Kampung Mangoet. Di situlah puluhan warga sedang sibuk beraktivitas dalam mengolah ikan.
Salah satu pemilik usaha, Rukini, mengungkapkan, ia mulai berkecimpung di dunia pengasapan ikan sejak tahun 1980-an. Ia mengolah berbagai jenis ikan, mulai dari ikan manyung, pare, tongkol, dan masih banyak lagi.
BACA JUGA: Inovasi Baru, Mahasiswi Udinus Ciptakan Bandeng Asap Tanpa Proses Bakar! Sedap dan Lebih Sehat
“Pasokan ikannya juga dari mana-mana, ada yang dari Juwana, Bali, Jakarta. Sehari bisa 5 sampai 7 kwintal, tergantung dari pasokan ikan,” ungkap Rukini kepada beritajateng.tv, belum lama ini.
Rukini menambahkan, dirinya hanya mengolah ikan sampai proses pengasapan saja. Setelah itu, ia akan memasarkan ikan asap kepada para tengkulak maupun pasar-pasar tradisional.
Untuk harga pun beragam, sesuai jenis ikan, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per kilonya. Menurutnya, ikan manyung menjadi salah satu bestseller yang diburu pembeli.
“Ngirimnya ke mana-mana, enggak cuma di sekitar Semarang, ada yang ke Bangka Belitung, Jakarta,“ imbuh Rukini.
Sentra ikan asap Kampung Mangoet yang tergerus zaman
Sementara itu, warga lain, Siswanto, menjelaskan sentra pengasapan ikan di Bandarharjo sebenarnya sempat berjaya pada tahun 90-an. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, jumlah usaha pengasapan ikan terus berkurang.
Dulunya, lebih dari 70 usaha pengasapan ikan yang ada di Kampung Mangoet. Namun, saat ini hanya tersisa sekitar 25 usaha yang masih beroperasi. Alasannya pun beragam.
“Berkurangnya sejak habis pandemi Covid-19. Kemungkinan juga gara-gara kurang pemasokan maupun keuntungan. Ditambah ada pesaing juga,” ucap Siswanto kepada beritajateng.tv, belum lama ini.
Siswanto merupakan salah satu pemilik yang terpaksa menutup usahanya pada tahun 2019 silam. Ia memutuskan berhenti dari bisnis pengasapan ikan karena berbagai kendala.
BACA JUGA: Serunya ‘Street Photography’ di Kampoeng Mangoet ala Komunitas Blusukan
Meski begitu, ia tak menutup kemungkinan untuk membuka lagi usahanya di kemudian hari.
“Alhamdulillah selama itu saya bisa nyekolahin empat anak saya. Lalu saya istirahat mulai 2019 tidak pengasapan ikan lagi. Tempatnya ya masih, tapi sudah tidak berfungsi,” ucap Siswanto.
Berbeda dengan Siswanto yang gulung tikar, Iskandar masih berjuang mempertahankan usaha ikan asap milik keluarganya. Ia sendiri adalah generasi kedua, setelah ayahnya.
Meski terus mengalami penurunan, Iskandar berkomitmen untuk terus menjalankan usahanya. Salah satunya dengan mempertahankan kualitas produk ikan asap.
“Yang terpenting, kami selalu menjaga harga, rasa, dan kualitas. Sehari targetnya bisa menyelesaikan 3 kwintal,” Iskandar memungkasi. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





