UNGARAN, beritajateng.tv — Konflik di kawasan Timur Tengah tak hanya berdampak pada sektor energi global, tetapi juga mulai dikhawatirkan memengaruhi pasar ekspor kopi Indonesia.
Ketegangan antara Iran dan Israel ternilai berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan internasional, termasuk ekspor kopi ke kawasan tersebut.
Padahal, Timur Tengah merupakan salah satu pasar potensial bagi kopi Indonesia, khususnya kopi Gayo dari Aceh serta kopi Temanggung di Jawa Tengah.
Ketua Kelompok Tani Kopi Ngudi Makmur, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Antep Rosit, mengungkapkan bahwa Mesir selama ini menjadi salah satu pasar utama kopi Indonesia di kawasan tersebut, bahkan menempati posisi kedua setelah Amerika Serikat.
“Selain itu, Arab Saudi juga menjadi pasar yang terus berkembang,” ujarnya, Senin, 30 Maret 2026.
BACA JUGA: Pemerintah Tunda Umroh Imbas Kondisi Timur Tengah, ASPHIRASI Jateng Harap Refund Hotel-Visa Dikomunikasikan
Menurutnya, jika konflik berkepanjangan terus terjadi, dampaknya tidak hanya pada harga minyak dunia, tetapi juga dapat mengganggu arus perdagangan global, termasuk ekspor kopi.
Gangguan tersebut berpotensi terjadi akibat risiko keamanan jalur pelayaran niaga. Jika ekspor terhambat atau bahkan terhenti, maka dampaknya akan langsung dirasakan oleh petani di dalam negeri.
Pasokan kopi yang tidak terserap pasar ekspor akan menumpuk di pasar domestik, sehingga berisiko menekan harga.
Antep mencontohkan, jika kopi Temanggung tidak terserap pasar ekspor, maka petani di Kabupaten Semarang juga akan terdampak. Hal ini karena sebagian hasil kopi dari wilayah tersebut turut menyuplai kebutuhan kopi Temanggung.
“Kalau itu terjadi, harga kopi di Kabupaten Semarang pasti akan jatuh,” tegasnya.
Kondisi ini ternilai merugikan petani, terlebih dalam waktu dekat akan memasuki masa panen. Perkiraannya pada Mei mendatang sebagian petani mulai panen, dan puncaknya terjadi pada Juni.
BACA JUGA: Bulog Jateng Siap Serap 364 Ribu Ton Beras Petani Lokal pada 2026, Target Serapan Jagung 70 Ribu Ton
Jika hasil panen tidak terserap atau harga jual turun, maka kesejahteraan petani akan terancam.
“Untuk saat ini, petani cukup khawatir hasil panen nanti tidak terserap, atau kalaupun terserap, harganya tidak sesuai harapan,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





