BACA JUGA: Absen Pesta Kembang Api, Ini Agenda Seru Malam Tahun Baru di Hotel-Hotel Kota Semarang
Heru mencontohkan kawasan wisata Guci di Kabupaten Tegal yang sebelumnya sempat terlanda banjir bandang. Meski pemerintah dan pejabat setempat telah menyampaikan bahwa kondisi sudah aman dan kejadian hanya terlokalisir, dampaknya masih terasa.
“Guci itu contohnya. Meskipun sudah dinetralisir informasinya, dibilang kondisinya baik dan hanya di titik tertentu, tapi kelihatannya belum cukup mendongkrak kunjungan,” katanya.
Menurut Heru, persepsi publik menjadi tantangan tersendiri dalam pemulihan wisata alam pascabencana.
“Kadang orang sudah terlanjur khawatir. Jadi meskipun secara teknis aman, minatnya belum langsung kembali,” ujarnya.
Tiket penerbangan domestik mahal, wisatawan pilih ke luar negeri
Selain faktor bencana, Heru juga menyoroti tren meningkatnya wisata ke luar negeri yang ikut memengaruhi pariwisata domestik, termasuk tingkat hunian hotel di sejumlah daerah.
Ia mengakui, mahalnya tiket pesawat domestik menjadi salah satu faktor pendorong wisatawan memilih berlibur ke luar negeri. Ia bahkan menyebut adanya fenomena wisatawan yang memilih rute transit ke luar negeri demi mendapatkan harga lebih murah untuk bepergian ke wilayah lain di dalam negeri.
“Kami di asosiasi sudah sering menyampaikan soal ini. Saya enggak tahu kenapa di kita tiket pesawat bisa mahal. Ada teman-teman yang mau ke Medan malah lewat Kuala Lumpur dulu, karena lebih murah. Bisa sekalian main sebentar. Ini kan sebenarnya memprihatinkan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Jelang Libur Nataru, Tingkat Okupansi Hotel di Kota Semarang Masih di Bawah 70 Persen
Menurut Heru, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius, baik dari sisi regulasi maupun struktur biaya industri penerbangan domestik. Heru menegaskan, mahalnya tiket pesawat domestik jelas berdampak pada pariwisata dalam negeri.





