SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah persoalan sampah organik yang terus meningkat, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang, menghadirkan solusi yang sederhana namun berdampak besar.
Melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF), sampah sisa makanan bisa menjadi pakan alternatif bernilai ekonomis bagi ternak.
Pengelola budidaya maggot TPA Jatibarang, Musa Farizal Andaru, menjelaskan bahwa program ini untuk menekan volume sampah organik sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Maggot ini bisa bermanfaat sebagai pakan ayam, ikan, hingga burung. Selain itu, dia sangat efektif membantu mengurai sampah organik,” ujar Musa, Minggu, 4 Januari 2026.
Menurutnya, maggot memiliki kemampuan konsumsi yang tinggi. Dalam satu hari, satu kilogram maggot mampu menghabiskan hingga lima kilogram sampah organik, baik dari sisa makanan mentah maupun olahan sederhana.
“Dalam sehari, satu kilo maggot bisa menghabiskan sekitar lima kilo sampah organik. Itu sangat membantu pengurangan sampah di TPA,” jelasnya.
Proses budidaya maggot dimulai dari telur lalat tentara hitam yang menetas dalam waktu tiga hingga empat hari. Setelah berusia sekitar tiga minggu, maggot sudah dapat panen dan masyarakat manfaatkan.
“Dari baby maggot, kurang lebih tiga minggu sudah bisa panen,” kata Musa.
Meski demikian, ia mengakui budidaya maggot memiliki tantangan tersendiri. Faktor cuaca, terutama musim hujan, kerap memengaruhi produktivitas dan hasil panen.
“Kalau hujan, biasanya produksi maggot ikut menurun. Ini yang masih kami hadapi di lapangan,” ungkapnya.
Saat ini, budidaya maggot di TPA Jatibarang masih berfokus sebagai sarana edukasi pengelolaan sampah organik. Karena itu, jumlah panen belum dihitung secara komersial. Maggot yang dihasilkan sebagian besar dibagikan kepada warga yang membutuhkan.
“Kalau ada masyarakat yang minta, kami berikan. Tujuannya memang edukasi dan berbagi manfaat,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat terhadap budidaya maggot terbilang tinggi. Pengunjung tidak hanya datang dari lingkungan sekitar TPA, tetapi juga dari kalangan mahasiswa hingga calon pelaku usaha yang ingin mempelajari budidaya maggot sebagai peluang usaha.





