“Saya tidak yakin kalau yang mereka sampaikan kepada penyidik itu utuh. Keyakinan saya bisa berubah kalau memang bisa menunjukkan rekaman secara lengkap,” ujar Zainal lugas.
Potongan video yang parsial, lanjut Zainal, berpotensi menggiring opini publik serta mencetuskan persepsi menyesatkan. Seolah-olah kliennya adalah dalang pengeroyokan di cafe Veteran Semarang.
Laporkan Balik Dugaan Penganiayaan dan Pengeroyokan
Tak tinggal diam terhadap tuduhan tersebut, pihak Nathan melakukan perlawanan hukum. Pada 23 September 2026, Nathan resmi melaporkan balik MHR (Mahir) bersama rekannya berinisial ADNZ atas dugaan penganiayaan dan pengeroyokan.
Meski perkara yang menyeret nama Nathan telah masuk ke tahap penyidikan, tim kuasa hukum mendesak kepolisian untuk bertindak makin transparan.
Pihaknya berencana melayangkan surat resmi ke Polda Jawa Tengah guna mendorong adanya gelar perkara khusus secara menyeluruh.
Di sisi lain, posisi Mahir sebagai seorang advokat muda turut memicu sorotan tajam. Menurut Zainal, tindakan terlibat dalam perkelahian jalanan sangat mencederai marwah profesi penegak hukum.
“Seorang advokat tidak boleh melakukan tindakan main hakim sendiri. Tidak boleh, sangat tidak pantas,” bentaknya.
Rencana pengaduan dugaan pelanggaran kode etik advokat ke organisasi profesi yang menaungi Mahir pun kini tengah disiapkan.
Terkait klaim luka-luka yang Mahir alami pasca-kejadian, pihak Nathan menekankan pentingnya pembuktian kausalitas secara rinci dalam proses hukum.
Dalam arena keributan massa yang melibatkan banyak orang, tidak bisa serta-merta mengkambinghitamkan satu pihak tanpa bukti otentik.
Apalagi, adanya keterlibatan anggota TNI yang turut menjadi korban pemukulan menjadi variabel penting yang wajib didalami oleh penyidik. Kini, rekaman CCTV utuh dan kesaksian para saksi kunci siap di uji di meja penyidikan demi merajut kebenaran material yang sejati. (*)





