SEMARANG, beritajateng.tv – Tabir gelap di balik bentrokan berdarah di area parkir sebuah kafe Jalan Veteran, Lempongsari, Gajahmungkur, Semarang, perlahan mulai terkuak.
Peristiwa riuh yang terjadi pada pertengahan malam pertimur, 1 Agustus 2026 pukul 03.20 WIB lalu, kini menghadirkan jalan cerita anyar yang mengejutkan.
Jika di awal narasi Nathan dtuding sebagai pelaku pengeroyokan terhadap seorang pengacara muda bernama Mahir Maulana Jaya (27), fakta berbeda justru terpampang nyata lewat rekaman CCTV berdurasi utuh.
Bukan datang untuk menyerang, Nathan yang bertubuh jangkung itu justru terekam datang ke tengah arena perkelahian sebagai sosok yang berupaya meredam amarah.
Kuasa hukum Nathan, Zainal Abidin Petir, membeberkan bukti rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan kronologi kejadian secara presisi kronologi pengeroyokan di cafe Veteran Semarang itu. Dari video visual utuh tersebut, eskalasi emosi sejatinya sudah membara sebelum kedatangan Nathan.
BACA JUGA: Viral Pengeroyokan di Jalan Pahlawan Semarang, Polisi Ringkus Tukang Parkir Penembak Airsoft Gun
Tampak seorang anggota TNI menjadi sasaran pemukulan oleh sejumlah orang. Dalam pusaran aksi saling pukul itu, Mahir kuat dugaan ikut terlibat aktif sebelum Nathan menginjakkan kaki di area parkir kafe.
“Nathan berusaha melerai. Karena Nathan tinggi, cara melerainya dengan merangkul dan menjauhkan dari tempat keributan,” tegas Zainal Abidin Petir sembari menunjukkan detail rekaman visual kejadian pengeroyokan di Veteran Semarang kepada awak media, Selasa (29/9/2026).
Langkah Nathan merangkul dan menarik mundur para pelaku perkelahian merupakan ikhtiar menghentikan gesekan agar tak memakan korban lebih banyak.
Naas bagi Nathan, niat baik memutus mata rantai kekerasan itu justru mendapat balasan kepalan tangan. Pelipis matanya terluka, dan kacamata yang ia kenakan hancur berkeping-keping akibat serangan di tengah kekacauan.
Kehadiran video utuh ini sekaligus melayangkan kritik tajam terhadap potongan video pendek yang sempat beredar dan menjadi acuan laporan awal ke Polrestabes Semarang. Zainal mempertanyakan integritas bukti video yang pihak pelapor sodorkan kepada tim penyidik.
“Saya tidak yakin kalau yang mereka sampaikan kepada penyidik itu utuh. Keyakinan saya bisa berubah kalau memang bisa menunjukkan rekaman secara lengkap,” ujar Zainal lugas.
Potongan video yang parsial, lanjut Zainal, berpotensi menggiring opini publik serta mencetuskan persepsi menyesatkan. Seolah-olah kliennya adalah dalang pengeroyokan di cafe Veteran Semarang.
Laporkan Balik Dugaan Penganiayaan dan Pengeroyokan
Tak tinggal diam terhadap tuduhan tersebut, pihak Nathan melakukan perlawanan hukum. Pada 23 September 2026, Nathan resmi melaporkan balik MHR (Mahir) bersama rekannya berinisial ADNZ atas dugaan penganiayaan dan pengeroyokan.
Meski perkara yang menyeret nama Nathan telah masuk ke tahap penyidikan, tim kuasa hukum mendesak kepolisian untuk bertindak makin transparan.
Pihaknya berencana melayangkan surat resmi ke Polda Jawa Tengah guna mendorong adanya gelar perkara khusus secara menyeluruh.
Di sisi lain, posisi Mahir sebagai seorang advokat muda turut memicu sorotan tajam. Menurut Zainal, tindakan terlibat dalam perkelahian jalanan sangat mencederai marwah profesi penegak hukum.
“Seorang advokat tidak boleh melakukan tindakan main hakim sendiri. Tidak boleh, sangat tidak pantas,” bentaknya.
Rencana pengaduan dugaan pelanggaran kode etik advokat ke organisasi profesi yang menaungi Mahir pun kini tengah disiapkan.
Terkait klaim luka-luka yang Mahir alami pasca-kejadian, pihak Nathan menekankan pentingnya pembuktian kausalitas secara rinci dalam proses hukum.
Dalam arena keributan massa yang melibatkan banyak orang, tidak bisa serta-merta mengkambinghitamkan satu pihak tanpa bukti otentik.
Apalagi, adanya keterlibatan anggota TNI yang turut menjadi korban pemukulan menjadi variabel penting yang wajib didalami oleh penyidik. Kini, rekaman CCTV utuh dan kesaksian para saksi kunci siap di uji di meja penyidikan demi merajut kebenaran material yang sejati. (*)





