“Saya tidak percaya kalau benar-benar tidak ada apa-apa. Saya yakin pasti ada sesuatu di balik itu semua, hanya saja kita belum tahu apa,” tegasnya.
Adanya Indikasi Paparan Konten Media Sosial yang Mendorong Tindakan Bunuh Diri Anak
Menurutnya, tindakan bunuh diri pada anak biasanya berkaitan dengan tekanan psikologis yang berkembang menjadi gangguan mental tertentu. Jika anak dalam kondisi sehat secara psikologis, dorongan untuk mengakhiri hidup sangat kecil kemungkinan muncul.
“Kalau anak itu baik-baik saja secara tumbuh kembang dan tidak ada gangguan psikologis, untuk berpikiran ke arah bunuh diri itu sangat kecil kemungkinan,” ungkapnya.
Kiki juga menyoroti kemungkinan pengaruh dunia digital terhadap anak-anak. Paparan konten di media sosial dapat menjadi faktor yang memperkuat dorongan negatif, terutama ketika anak sedang mengalami tekanan emosional.
“Bisa saja dia sudah punya masalah, lalu melihat konten di media sosial tentang orang mengakhiri hidup, kemudian terinspirasi,” katanya.
Terkait viralnya percakapan berisi makian dari orang tua, Kiki menjelaskan bahwa marah kepada anak merupakan hal yang wajar selama masih dalam batas mendidik. Namun, memaki, mengancam berlebihan, atau memberikan perlakuan emosional negatif bukanlah cara yang tepat.
BACA JUGA: Anak SD NTT Bunuh Diri Tinggalkan Sepucuk Surat, Isinya Bikin Nyesek
“Marah itu wajar. Tapi kalau sampai memaki, mengancam berlebihan, atau mendiamkan anak, itu tidak wajar,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya rumah menjadi tempat ternyaman bagi anak untuk bercerita. Komunikasi terbuka dan kemampuan orang tua mengelola emosi pun menjadi kunci pencegahan kasus serupa.
“Untuk para orang tua, mari selesaikan emosi kita sendiri. Biarkan anak-anak jadi anak-anak. Jangan ambil anak untuk bertanggung jawab atas emosi kita,” pesannya.
Sementara itu, hingga kini Polres Demak masih terus melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti korban mengakhiri hidupnya. Pemeriksaan terhadap ibu korban juga masih terbatas karena kondisi trauma setelah kehilangan anaknya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





