SEMARANG, beritajateng.tv – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat puncak musim kemarau. Selain mengantisipasi ancaman kekeringan, BPBD juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak. Terutama untuk mengantisipasi kebakaran di kawasan rawan seperti hutan Gunung Merbabu.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan otoritas terkait, termasuk Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), sebagai langkah antisipasi.
Sebab, kawasan hutan di lereng Gunung Merbabu menjadi salah satu wilayah yang rawan mengalami kebakaran hutan di Kabupaten Semarang. Selain Merbabu, kawasan Gunung Telomoyo dan Hutan Penggaron juga menjadi perhatian.
Untuk mendukung penanganan karhutla, BPBD Kabupaten Semarang telah menerima bantuan lima unit pompa air dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pompa tersebut mampu menjangkau sumber air hingga radius tiga kilometer.
BACA JUGA: Habitat Surili Jawa di Gunung Merbabu Kian Sehat, Populasi Tetap Terjaga Pascakebakaran
Menurut Alexander, peralatan tersebut dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan armada pemadam kebakaran maupun mobil tangki air BPBD ketika terjadi kebakaran hutan di lereng Gunung Merbabu.
“Lima unit pompa air ini siap digunakan jika dibutuhkan untuk penanganan karhutla. Kemarin sudah kita coba di Merbabu, radius tiga kilometer memang masih memungkinkan,” jelasnya.
Sementara itu, Kasubag TU Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), Nurpana Sulaksono, mengatakan pihaknya juga meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko karhutla di kawasan hutan TNGMb.
BTNGMb telah menyusun rencana mitigasi untuk mencegah sekaligus mengantisipasi kebakaran hutan di kawasan Gunung Merbabu. Rencana tersebut mencakup standar operasional prosedur (SOP), petunjuk pelaksanaan, hingga petunjuk teknis pencegahan kebakaran hutan.
“Di dalamnya juga mencakup SOP, petunjuk pelaksanaan maupun petunjuk teknis dalam upaya mencegah terjadinya kebakaran hutan,” tegasnya melalui sambungan telepon.
Selain itu, BTNGMb telah mengonsolidasikan berbagai komponen melalui Apel Siaga untuk menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi cukup kering tahun ini.
Kegiatan tersebut bertujuan mengoordinasikan seluruh stakeholder untuk memitigasi sekaligus meminimalkan risiko kebakaran hutan di kawasan TNGMb.
Petugas BTNGMb juga rutin melakukan patroli setiap hari di kawasan lingkar Merbabu. Dalam kegiatan tersebut, petugas berkolaborasi dengan masyarakat, relawan, dan berbagai komponen terkait.
Untuk memperkuat pengawasan selama puncak musim kemarau, BTNGMb juga akan menyiapkan posko terpadu yang beroperasi selama 24 jam mulai Agustus 2026.
BTNGMb juga terus menyosialisasikan upaya pencegahan kebakaran kepada masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merbabu. Seluruh desa di sekitar kawasan taman nasional telah menerima surat edaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan.
“Sosialisasi juga kami gencarkan melalui forum-forum pertemuan warga di tingkat desa maupun kecamatan yang wilayahnya berada di lereng Gunung Merbabu,” lanjut Nurpana.
BTNGMb juga memperketat SOP bagi aktivitas pendakian. Salah satu aturan yang ditekankan yakni larangan membuat perapian selama melakukan pendakian.
BACA JUGA: Kuota Pendakian Merbabu via Thekelan Sudah Penuh Hingga Malam Tahun Baru
Koordinator Relawan Pinoes Merbabu, Suryo Sigit, menambahkan, selain mengikuti patroli terjadwal bersama petugas BTNGMb, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Getasan juga aktif melakukan pemantauan di wilayah masing-masing.
“Intinya, kewaspadaan terhadap aktivitas apa pun yang dapat memicu risiko terjadinya kebakaran hutan untuk saat ini terus kami tingkatkan di wilayah Kecamatan Getasan,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





