SEMARANG, beritajateng.tv – Alam selalu memiliki cara tersendiri dalam memperlihatkan keindahannya, sepertihalnya fenomena Halo Matahari yang muncul hari ini.
Kemunculan fenomena tersebut tentu membuat banyak masyarakat geger lantaran lingkaran putih di sekitar matahari yang begitu indah.
Masyarakat umumnya juga menyebut sebagai cincin matahari karena cahaya yang terlihat mengelilingi begitu jelas.
BACA JUGA: Akan Terjadi Gerhana Matahari Cincin dan Total di Tahun 2026, Simak Jadwalnya Berikut!
Lalu bagaimana proses terjadinya fenomena tersebut? Yuk simak berikut informasi lengkapnya.
Proses Terjadinya Fenomena Halo Matahari
Fenomena ini terjadi akibat pembiasan cahaya oleh kristal es pada awan cirrus yang berada di lapisan atmosfer dingin, sekitar 5 hingga 10 kilometer di atas troposfer.
Halo atau cincin cahaya tersebut muncul ketika sinar matahari dibelokkan oleh partikel uap air di atmosfer.
Proses ini terjadi karena adanya dispersi pada butiran air atau kristal es di awan cirrus saat terkena sinar matahari.
Ketika cahaya matahari mengenai awan cirrus, kristal es yang berbentuk prisma atau batang akan memantulkan sekaligus membiaskan cahaya.
Hasil pembiasan itu kemudian terurai akibat efek dispersi, sehingga membentuk lingkaran cahaya di sekitar matahari.
Cahaya yang terurai menjadi berbagai warna kemudian dipantulkan di sekitar matahari dan menyebar ke arah tertentu.
Akibatnya, terbentuk lingkaran bercahaya yang tampak mengelilingi matahari.
Fenomena halo matahari pada dasarnya terjadi melalui proses yang mirip dengan terbentuknya pelangi pada pagi atau sore hari setelah hujan. Pada kondisi tersebut, posisi matahari berada pada sudut yang relatif rendah.
BACA JUGA: Cek Jadwal Lengkap Fenomena Gerhana Matahari di Tahun 2026, Jangan Sampai Ketinggalan!
Situasi ini membuat partikel air memiliki kemampuan lebih besar untuk membiaskan cahaya, sehingga warna-warna yang muncul terlihat lebih lengkap mengelilingi matahari.
Halo matahari tergolong fenomena alam yang jarang terjadi, namun kemunculannya tetap dapat dijelaskan secara ilmiah.
Menariknya, fenomena tersebut dapat terlihat oleh mata telanjang tanpa menggunakan alat apapun. (*)





