Probowatie juga menilai, penggunaan istilah ODGJ tidak secara sembarangan karena dapat menimbulkan stigma negatif di masyarakat.
“Kalau semua gangguan mental di sebut ODGJ, itu jadi terkesan ‘seram’. Padahal yang lebih tepat adalah melihat ini sebagai kondisi kesehatan mental yang perlu di jaga,” ujarnya.
Ia mencontohkan, perilaku remaja seperti mogok sekolah, sering melawan orang tua, atau terlibat tawuran juga bisa menjadi tanda kesehatan mental yang tidak optimal, namun bukan berarti langsung di kategorikan sebagai gangguan jiwa berat.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga kesehatan mental remaja. Minimnya komunikasi di rumah dapat memperparah kondisi emosional anak.
“Kadang anak mogok sekolah atau bermasalah itu karena tidak ada komunikasi dalam keluarga. Tidak ada kekompakan, tidak ada tempat bercerita,” jelasnya.
BACA JUGA: Viral Kisah ODGJ yang Ternyata Alumni ITB, Alasan Jadi Gelandangan Bikin Heboh
Sejalan dengan temuan I-NAMHS, tingginya angka masalah kesehatan mental pada remaja menjadi peringatan serius bagi semua pihak, mulai dari orang tua, sekolah, hingga pemerintah. Probowatie pun mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam memahami isu kesehatan mental, serta mengurangi stigma terhadap istilah ODGJ.
“Kesehatan mental itu spektrum. Semua orang bisa mengalami. Tapi tidak semuanya adalah ODGJ dalam arti yang berat. Jadi jangan samaratakan,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





