SEMARANG, beritajateng.tv – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah menyebut rata-rata lama sekolah di wilayahnya masih berada di angka 8,15 tahun atau setara kelas 2 SMP. Angka tersebut masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Kepala Bidang (Kabid) Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Jawa Tengah, Johan Hadiyanto, mengatakan capaian tersebut menunjukkan masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat secara rata-rata.
“Untuk rata-rata lama sekolah masih menjadi PR kita bersama, kita di angka 8,15 tahun. Berarti rata-rata lama sekolah di Jawa Tengah baru di level kelas 2 SMP,” ujar Johan saat memberikan sambutan dalam acara Regional Policy Roundtable di Hotel Ibis Style, Kota Semarang, Selasa, 21 April 2026.
BACA JUGA: Kepala Sekolah di Brebes Oplos LPG, Polda Jateng Selidiki Keterlibatan Guru Lain dan Yayasan
Johan menegaskan, peningkatan rata-rata lama sekolah tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Tidak mungkin rata-rata lama sekolah diselesaikan oleh pemerintah provinsi sendiri, kabupaten/kota sendiri. Ini pekerjaan kita semua,” tegas Johan.
Harapan Lama Sekolah Sudah 13 Tahun, Johan Ungkap Realisasi Masih Tertinggal
Di sisi lain, Johan menyebut harapan lama sekolah (HLS) di Jawa Tengah saat ini telah mencapai 13,05 tahun atau setara pendidikan Diploma 1.
“Harapan lama sekolah Jawa Tengah itu saat ini di 13,05 tahun, berarti setara dengan Diploma 1,” jelasnya.
Kendati begitu, Johan mengakui masih terdapat kesenjangan antara harapan dan realisasi di lapangan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa masih banyak masyarakat yang belum dapat mengakses pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
Johan mengungkap, terdapat sejumlah persoalan yang menyebabkan rendahnya rata-rata lama sekolah di Jawa Tengah. Salah satunya adalah masih adanya anak tidak sekolah (ATS).
“Di dalamnya ada beberapa isu permasalahan, mulai anak tidak sekolah (ATS), kemudian akses pendidikan yang kurang, dan seterusnya,” katanya.





