Kemajuan teknologi seperti AI tidak bisa terhindari. Namun, peran keluarga tetap menjadi kunci utama dalam membentuk kesehatan mental dan emosional anak.
“Teknologi tidak bisa dibendung, tapi komunikasi keluarga harus diperkuat. Semua harus belajar, baik anak maupun orang tua,” pungkas Probowatie.
Anak Curhat ke AI Berdasarkan Survei 35 Kabupaten/Kota di Jateng
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyoroti fenomena ini sebagai persoalan serius. Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sumarno, mengungkapkan hasil survei DP3AP2KB di 35 kabupaten/kota menunjukkan banyak anak lebih memilih curhat ke AI dibanding keluarga.
“Anak-anak kalau ada masalah curhatnya ke siapa? AI, bukan ke keluarga, ke bapak ibunya. Ini kan memprihatinkan,” kata Sumarno.
BACA JUGA: Kasus Berakhir Damai, Remaja Korban Tuduhan Buang Bayi di Blora Bakal Terima Beasiswa dari Pemkab
Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari minimnya peran ayah (fatherless), hingga dampak media sosial yang memicu rasa iri dan rendah diri pada anak.
“Teknologi dan gadget juga menjadi pemicu konflik dalam keluarga. Ini tantangan besar untuk membangun keluarga yang kuat,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Pemprov Jateng mendorong penguatan peran keluarga melalui pengawasan penggunaan gadget serta meningkatkan kualitas komunikasi antara orang tua dan anak. (*)
Editor: Farah Nazila




