SEMARANG, beritajateng.tv – Gonjang-ganjing Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terjadi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Pada Minggu, 22 Februari 2026 lalu, puluhan pengurus di 13 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PSI Kota Semarang kompak mengundurkan diri sebagai pengurus.
Sejumlah DPC juga mengembalikan aset berupa plang ke kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI Kota Semarang sebagai bentuk sikap protes.
Menanggapi dinamika tersebut, pengamat politik Universitas Diponegoro (Undip), Nur Hidayat Sardini (NHS), menilai masa depan PSI, termasuk di Jawa Tengah, sangat bergantung pada figur Presiden ke-7 Joko Widodo alias Jokowi.
BACA JUGA: Geger DPC Mundur Massal, DPW PSI Jateng Ungkap Alasan Ketua DPD Semarang Jadi PLT
“PSI itu sangat tergantung pada kesosokan. Sumber daya dia yang paling kuat adalah nama besar Pak Jokowi,” ujar NHS usai menghadiri Forum Group Discussion (FGD) di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin, 23 Februari 2026 sore.
Menurutnya, posisi Jokowi dalam relasinya dengan PSI telah terkonfirmasi dalam sejumlah momentum politik. Termasuk pertemuan partai di Makassar yang menegaskan peran Jokowi dalam membesarkan PSI.
“Tanpanya (Jokowi), dan itu sudah partai nyatakan saat pertemuan partai di Makassar. Jelas sekali bahwa beliau akan terus menjadi bagian yang sangat penting dalam upaya membesarkan PSI,” kata NHS.
Kaesang Pangarep jadi Ketum PSI Secepat Kilat, Pengaruh Politik Makin Menguat
NHS turut menyoroti terpilihnya putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, sebagai Ketua Umum (Ketum) PSI dalam waktu yang relatif singkat setelah mendaftar sebagai anggota partai.
“Ketika kemudian anaknya menjadi ketua umum dalam waktu yang terlampau singkat, begitu mendaftar langsung tiada lama kemudian menjadi ketua umumnya. Sesuatu yang sangat-sangat jarang dalam sejarah elektoral kita,” ujarnya.
Ia menilai eksistensi PSI tidak hanya bertumpu pada figur, namun juga pada sumber daya dan pengaruh politik.
“Yang kedua tentu saja resource. Tidak harus bersifat material resource, tetapi juga pengaruh-pengaruh yang bersifat influencing dalam arti politik,” kata NHS.
Ia menambahkan, selama pengaruh tersebut masih melekat pada Jokowi, PSI berpeluang tetap eksis. Namun untuk memenangkan pemilu, menurutnya, terdapat variabel lain yang bekerja, yakni persepsi dan dukungan publik.
PSI Tak Laku di Daerah yang Warganya Kritis
Di sisi lain, NHS menyampaikan pandangannya terkait segmentasi pemilih. Menurut NHS, dalam kondisi sumber daya politik yang besar serta pengaruh figur yang kuat, PSI masih dapat bertahan pada kelompok pemilih tertentu.
“Tapi yang jelas PSI tidak akan laku di daerah yang orangnya kritis. Makin tinggi pendidikan ya, biasanya makin akan menggerus dia. Namun dalam situasi begitu, dengan resource yang begitu besar yang partai ini miliki, termasuk pengaruh Pak Jokowi itu, maka dia akan berlaku kepada dependensi population. Jadi populasi yang masih tergantung pada keadaan,” ujarnya.
BACA JUGA: DPW PSI Jawa Tengah Klarifikasi Pengunduran Diri DPC Kota Semarang, Ketum: Hanya 6, Bukan 13
Ia menyebut, secara kasar terdapat sekitar 30 persen populasi yang tingkat pendidikannya tidak lulus SMP atau hanya sampai SMP. NHS menegaskan, eksistensi PSI di masa depan tetap akan sangat ditentukan oleh kekuatan figur, persepsi publik, serta dinamika dukungan politik di akar rumput.
“Dan kita tahu bahwa ada 30 persen lah kira-kira populasi kita yang tidak lulus SMP maupun pendidikan SMP yang ‘setiap hari selamat datang kami tunggu bansos’,” pungkasnya.
Kecewa atas penetapan Bangkit sebagai Ketua DPC PSI Kota Semarang
Sebelumnya, alasan 13 pengurus DPC PSI Kota Semarang mundur lantaran kecewa dengan sikap Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Jawa Tengah yang dianggap tak menyerap aspirasi di akar rumput.
“Kami para DPC yang mengundurkan diri [sebagai pengurus] sepakat mulai malam ini menjadi kader PSI biasa,” ujar Wakil Ketua DPD PSI Kota Semarang. Bayu Romawan,
Bayu mengaku suara dari DPC PSI Kota Semarang sudah tidak DPW PSI Jawa Tengah dengarkan. Salah satunya terkait dengan pencopotan Bangkit Mahanantyo sebagai Ketua DPC PSI Kota Semarang.
“Plt-nya ketua kami Bangkit yang tidak berdasar ya, tidak berdasar dan suara kami kami rasa sudah tidak lagi mereka dengar, maka percuma kalau kami bertahan lagi. “Terus ke pihak DPP langsung juga sudah melalui WA, melalui DM Instagram, bahkan ke Kaesang pun juga sudah kita lakukan namun tidak ada tanggapan,” lanjutnya.
Menurutnya, DPW PSI Jawa Tengah seharusnya dapat menampung aspirasi akar rumput kemudian mengomunikasikannya kepada DPP PSI.
“Tapi kenyataannya apa? Malah DPW enggak bisa menjadikan jembatan, malah DPW pun sendiri bingung,” ungkap Bayu. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




