“Satu rombel itu terdiri dari 25 siswa, baik SD, SMP maupun SMA,” jelas Imam.
Ia merinci, jenjang SD saat ini memiliki 11 rombongan belajar, SMP sebanyak 12 rombel, sedangkan SMA menjadi yang terbanyak dengan 28 rombel.
Sejumlah daerah bahkan memiliki jumlah siswa cukup besar. Surakarta misalnya, saat ini menampung hingga 200 siswa tingkat SMA dan 100 siswa tingkat SD.
Selain Surakarta, sekolah rintisan juga telah berjalan di Pati, Banyumas, Banjarnegara, Magelang, Temanggung, Blora, Wonosobo, Kebumen, Kota Semarang, Sragen, hingga Jepara.
Menurut Imam, sebagian sekolah rintisan tersebut memanfaatkan bangunan lama milik pemerintah yang kemudian ԁirenovasi sementara.
“Kalau yang rintisan itu memanfaatkan bangunan lama. Misalnya di Solo ada semacam panti milik sentra Kementerian Sosial, lalu ԁirombak sedikit untuk sekolah rintisan,” jelasnya.
BACA JUGA: Sekolah Rakyat Jateng Dipercepat: 14 Lokasi Aktif, Pusat Siapkan 11 Sekolah Permanen
Namun nantinya, lanjut Imam, seluruh siswa akan ԁipindahkan ke gedung permanen setelah pembangunan selesai.
“Kalau sudah ada sekolah permanennya nanti ԁipindahkan semua ke sana,” kata Imam.
Lebih jauh, Imam menegaskan tujuan utama program Sekolah Rakyat adalah memutus mata rantai kemiskinan melalui akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan.
Menurutnya, selama ini masih banyak anak dari kelompok miskin yang belum benar-benar tersentuh akses pendidikan secara optimal.
“Tujuan utamanya memang untuk memutus mata rantai kemiskinan. Memberikan kesempatan kepada anak-anak yang selama ini mungkin tidak terlihat bahwa mereka membutuhkan pendidikan,” ujarnya.
Selain itu, program tersebut juga bertujuan meningkatkan derajat masyarakat miskin melalui pendidikan. Ia mengatakan, hasil pendidikan memang tidak dapat terlihat dalam waktu singkat karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang.
“Tujuan kedua itu ‘nguwongke’ para fakir miskin. Jadi mengangkat derajat mereka supaya bisa memperoleh pendidikan. Tapi harapannya dari Sekolah Rakyat ini mereka keluar sudah punya keterampilan. Syukur-syukur bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dan mengangkat derajat orang tuanya,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





