Jateng

Sebelas Sekolah Rakyat Permanen Mulai Dibangun di Jateng, Tiap Lokasi Telan Anggaran hingga Rp230 Miliar

×

Sebelas Sekolah Rakyat Permanen Mulai Dibangun di Jateng, Tiap Lokasi Telan Anggaran hingga Rp230 Miliar

Sebarkan artikel ini
Sekolah Rakyat Permanen
Kepala Dinsos Jawa Tengah, Imam Maskur, saat dijumpai di kantornya belum lama ini. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pembangunan Sekolah Rakyat permanen mulai berjalan di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Program pendidikan untuk keluarga miskin yang ԁigagas Presiden RI Prabowo Subianto itu kini memasuki tahap pembangunan fisik di 11 titik daerah.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah, Imam Maskur, menyebut saat ini Jawa Tengah telah memiliki 14 titik Sekolah Rakyat rintisan yang tersebar di berbagai daerah. Sekolah tersebut mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA dan mulai beroperasi sambil menunggu pembangunan gedung permanen.

“Di Jawa Tengah ini sementara yang baru ada rintisan ada di 14 titik, mulai SD, SMP maupun SMA,” ujar Imam saat ԁijumpai di kantornya, belum lama ini.

Menurut Imam, dari 14 titik rintisan tersebut, sebagian kini mulai mengajukan pembangunan gedung permanen. Pemerintah pusat pun mulai merealisasikan pembangunan di sejumlah daerah.

“Dari 14 ini ada beberapa yang saat ini sudah mulai berproses untuk pembangunan gedung. Insyaallah nanti gedung ini menampung sekitar seribu siswa dari SD, SMP maupun SMA,” jelasnya.

Ia mengatakan, pembangunan permanen Sekolah Rakyat saat ini mulai berjalan di Kota Semarang, Pati, Rembang, Brebes, Sragen, Sukoharjo, Kebumen, dan sejumlah daerah lain.

BACA JUGA: Tujuh Siswa SMA Mundur dari Sekolah Rakyat Semarang, Ini Penjelasan Dinsos

“Yang sudah mulai pembangunan ini di Kota Semarang, progresnya sudah di atas 35 persen. Kemudian Pati, Rembang, Brebes, Sragen, Sukoharjo, Kebumen, ini sudah mulai,” kata Imam.

Menurut ԁia, total terdapat 11 titik pembangunan permanen yang kini mulai berjalan di Jawa Tengah. Namun, tidak seluruh daerah memiliki kondisi yang sama.

Imam menuturkan, ada wilayah yang telah memiliki sekolah rintisan tetapi belum mendapatkan pembangunan permanen, sementara sebagian daerah lain justru langsung memperoleh pembangunan gedung baru meski belum memiliki sekolah rintisan.

“Ada yang sekolah rintisannya sudah ada tetapi tanahnya belum lolos. Misalnya Magelang, sudah ada sekolah rintisannya tetapi belum dapat alokasi lokasi tanah,” ujarnya.