Di tengah banyaknya karakter, film ini terasa hidup berkat akting para pemainnya. Anggoro (Abimana) hadir sebagai pusat emosi yang menjaga arah cerita tetap jelas.
Mengingat film ini memadukan horor, komedi, dan aksi, Abi mampu menampilkan kemampuannya di ketiga aspek tersebut dengan baik berpindah mulus dari adegan pukulan keras ke momen tarian canggung di tengah pertarungan.
Ia juga berhasil menggambarkan bagaimana kebingungan Anggoro sebagai sosok yang berusaha berbuat benar di tengah sistem yang korup, sekaligus perjuangannya menjaga nilai moralnya.
Sementara itu, Bront Palarae sebagai Kepala Sipir Jefry tampil sebagai antagonis yang kuat dan mengintimidasi, merepresentasikan korupsi dan kekejaman dalam sistem yang tidak manusiawi.
Namun, film ini juga penuh dengan momen mencuri perhatian, Aming layak mendapat apresiasi atas energi nyentrik yang menyegarkan di paruh awal. Sementara pendatang baru Magistus Miftah bersinar di bagian tengah lewat adegan tarian yang sempurna.
Interaksi antar karakter terasa alami, seakan mereka benar-benar hidup dalam sistem yang sama-sama menekan. Di situlah letak kekuatan film ini membuat penonton peduli pada para karakternya, meskipun mereka memiliki masa lalu dengan pilihan moral yang tidak sepenuhnya benar.