SEMARANG, beritajateng.tv – Kampung Siluman Pulo Majeti merupakan salah satu film horor yang kabarnya akan tayang di bioskop. film tersebut ternyata terinspirasi dari salah satu kampung di Kota Banjar yang memang terkenal angker.
Menariknya lagi, di kampung tersebut terdapat sebuah cagar budaya yang umumnya masyarakat kunjungi untuk berziarah. Tak heran apabila kampung ini memiliki cerita legenda yang cukup terkenal.
Berikut ini akan kami bagikan bagaimana kisah kerajaan Pulo Majeti yang terletak di kampung Siluman Banjar. Baca artikel ini sampai selesai untuk mengetahui informasinya.
Kampung Siluman Pulo Majeti
Zaman dahulu, Pulo Majeti menjadi tempat bagi sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Selang Kuning Sulaeman Anom dan Ibu Ratu Candrawati Ingkang Garwa. Kabarnya, Ibu Ratu Candrawati adalah putri Jin Kuraesin, sementara Prabu Selang Kuning terkenal sebagai raja gagah yang memiliki kesaktian.
Suatu hari, saat Raja melakukan inspeksi wilayahnya naik kuda Sembrani, ia melihat cahaya terang dari atas. Cahaya tersebut berasal dari Putri Ratu Ibu Candrawati, yang membuat Raja terpesona akan kecantikannya. Prabu Selang Kuning lalu melamar sang putri melalui surat yang Burung Caladi Bawang sampaikan.
BACA JUGA: 3 Fakta Menarik dari Film Horor Pengantin Iblis, Mulai Produksi di Bulan Januari 2024
Untuk memberi keberanian kepada burung tersebut, mahkota dan sebagian pakaian milik raja ia pakaikan ke burung tersebut. Setelah melalui perjuangan, surat lamaran akhirnya tersampaikan dan keduanya menikah, melahirkan seorang putri bernama Nyi Mae Mayang Munah.
Namun, kehidupan bahagia mereka terganggu ketika cincin sakti milik Prabu Selang Kuning dicuri oleh seorang jin yang kemudian menjelma sebagai raja. Akibatnya, kesaktian dan kegagahan sang raja hilang, dan ia terpaksa meninggalkan Kerajaan Pulo Majeti.
Jin yang menjadi raja mengalami konsekuensi negatif dari perbuatannya, dengan munculnya wabah penyakit dan kekacauan di kerajaan. Seorang Pandita mengungkapkan bahwa yang memimpin bukanlah raja sejati, sehingga rakyat mendapatkan himbauan untuk tidak mengikuti perintahnya.
Setelah menyadari bahwa musibah berasal dari cincin yang ia curi, jin melemparkannya ke laut selatan dan kembali ke wujud semula, meninggalkan Kerajaan Pulo Majeti. Sementara itu, Prabu Selang Kuning yang pergi, akhirnya menemukan cincinnya dalam perut ikan di Pantai Selatan.
Dengan kembalinya cincin tersebut, kesaktian dan kegagahan Prabu Selang Kuning pulih. Ia kembali ke Pulo Majeti, memimpin bersama Ratu Gandawati, dan kerajaan menjadi sejahtera. Sebelum pergi, raja meninggalkan wasiat pada pohon Katubaya, memberikan makna pada setiap dahan sebagai simbol ilmu, kepangkatan, kekayaan, dan kuda Sembrani.
Wasiat ini turun-temurun dan menjadi daya tarik bagi peziarah yang datang dari berbagai daerah untuk ngalap berkah di Pulo Majeti. Demikianlah kisah kerajaan Pulo Majeti yang terletak di kampung Siluman Banjar. (*)





