Dalam perjalanannya, Agus mencoba menyajikan sumber-sumber manuskrip perjalanan Ki Ageng Pandanaran I dan Ki Ageng Pandanaran II. Seperti Babad Demak, Babad Negeri Semarang, dan beberapa dokumen cetak lainnya.
“Kita mencoba memberikan dokumen, sumber-sumber tertulis yang harapannya pembaca bisa mengetahui lebih lanjut sejarah Ki Ageng Pandanaran,” jelas Agus.
Agus melanjutkan, hasil dari penelitian ini adalah rencana penerbitan buku berjudul “Menelusuri Jejak Kota Semarang.” Buku itu akan rilis pada awal September. Ia berharap, buku ini nantinya dapat berfungsi sebagai kunci pengetahuan Ki Ageng Pandanaran.
“Buku ini adalah kunci untuk meneliti Ki Ageng Pandanaran secara lebih jauh. Kita tampilkan manuskrip meski membutuhkan metode tertentu untuk membacanya. Karena banyak simbol, dan gaya-gaya bahaya yang perlu kita pahami,” pungkasnya.
Editor: Farah Nazila





